Selasa, 30 Desember 2025

BOOK REVIEW : CANTIK ITU LUKA

 

Hallo, sudah sejak lama aku tidak menulis. Jadinya sedikit-banyak awkward, agak bingung mulai dari mana, tapi ya, sudahlah, pokoknya mulai saja.

Tulisan kali ini aku ingin membahas buku, tujuan sebenarnya biar ndak lupa-lupa amat dengan bukunya. Buku terakhir yang aku tuntaskan beridentitas berikut ini :

Judul Buku     : Cantik Itu Luka

Penulis           : Eka Kurniawan

Edisi cetakan  : keempatpuluhlima (wow) November 2025, cetakan pertamanya Desember 2002! Berarti aku baca setelah 23 tahun terbit! Ibarat pendidikan, sudah lulus kuliah S1 itu! MasyaAllah keren ya! Novel bisa bertahan cetak ulang sampai lebih dari 20 tahun!

Jumlah hal.   : 505, tanpa Daftar Isi -_-

Beli           : Gramedia Online via Lazada dengan harga setelah diskon Rp58.621 (Harga yang tertera di buku Rp125.000, Lumayan banget kaaan, ngga ada setengah harga. Alhamdulillah, terimakasih Lazada dengan segala koin dan diskonnya <3 )

Edisi sampul yang ini nih :

Gimana kesannya pas lihat sampul? Hmm.. aneh dan penasaran, tiap elemen gambar di sampul itu maksudnya apa ya? Aku baru paham maksudnya ya setelah tuntas baca. Ternyata cuplikan adegan yang ada di kisah novel ini.

Kalau ditanya genre novel ini, aku sendiri akan menjawab ini sih campuran, soalnya ada romansa, sejarah, horor, dan tragedi. Membacanya seperti diombang-ambingkan dari satu suasana ke suasana lain. Ada suasana mistis yang mencekam, perang yang kejam, dan asmara yang membara.

Rating usia novel ini 20+ ya, karena mengandung berbagai unsur yang perlu kematangan emosi dan kognitif, seperti penggambaran kekerasan, konten seksual, dan penggunaan bahasa yang kasar. Jadi, mohon dipikir secara bijak sebelum memutuskan untuk membaca ya!

Oke, kita mulai dari bagian awal buku. Sebelum bab 1, (Pak) Eka Kurniawan mengutip paragraf berikut:

Itu dari buku yang sudah kubeli juga tapi belum tuntas kubaca! “Petualangan Don Quixote” oleh Miguel de Cervantes, karya klasik abad ke-17. Dari paragraf yang dikutip sih mengisyaratkan ini novel Cantik Itu Luka ini bakal penuh dengan tokoh perempuan, sesuai judulnya dengan kata Cantik.

Setelah tuntas baca buku ini, aku menyimpulkan;

Oh, ternyata kutipan ini memang sesuai dengan isi buku, soalnya tokoh perempuan dikisahkan selalu menaklukkan lelaki, baik ia seorang lelaki biasa penarik cikar, seorang jenderal, seorang pimpinan komunis, seorang begundal preman, maupun seorang pemuda tampan layaknya pangeran. Para lelaki hebat tetap bisa takluk pada kecantikan wanita.”

Setelah kutipan itu, langsung Bab 1, dst. Karena tidak ada Daftar Isi dan tidak ada judul Bab, aku memberi judul sendiri setiap selesai membaca satu bab agar aku sendiri ingat alur cerita novel ini. Berikut judul bab yang kubuat sendiri.

Bab 1 Dewi Ayu Bangkit dari Kubur

Bab 2 Dewi Ayu Menikahi Ma Gedik

Bab 3 Dewi Ayu di Penjara Bloedenkamp

Bab 4 Dewi Ayu dan Rumah Mama Kalong

Bab 5 Dewi Ayu dan Maman Gendeng

Bab 6 Kisah Sang Shodancho

Bab 7 Cinta Gila Kamerad Kliwon

Bab 8 Cinta Alamanda dan Kamerad Kliwon

Bab 9 Pernikahan Alamanda dan Sang Shodancho

Bab 10 Maman Gendeng Menikahi Maya Dewi

Bab 11 Kamerad Kliwon dan Serikat Nelayan vs. Sang Shodancho

Bab 12 Keruntuhan Partai Komunis

Bab 13 Kelahiran 3 Cucu Dewi Ayu

Bab 14 Hantu-Hantu Komunis

Bab 15 Misteri Kehamilan Rengganis Si Cantik

Bab 16 3 Pengakuan Krisan

Bab 17 Maman Gendeng Moksa

Bab 18 Cantik Itu Luka

Di halaman akhir ada pohon silsilah keluarga yang awalnya benar-benar membuatku bingung. Tapi justru itulah yang membuatku terus membaca karena penasaran, meskipun sempat bosan di tengah jalan cerita. Kalian bingung juga tidak?

SINOPSIS

Kisah berpusat di tokoh Dewi Ayu dan keluarganya. Ia seorang wanita dengan darah campuran Indonesia-Belanda, namun hasil dari hubungan sedarah (ayah dan ibunya saudara seayah-beda ibu). Kecantikannya terkenal se-Halimunda (kota fiktif latar kisah ini). Namun, para lelaki tidak perlu berebut untuk mendapatkannya karena Dewi Ayu menjalani takdirnya sebagai pelacur.

Bab 1 kuberi judul Dewi Ayu Bangkit dari Kubur, vibes-nya horor dan tidak logis karena ia bangkit setalah dikubur selama 21 tahun, dalam kondisi tubuh yang utuh dan kecantikan yang abadi. Namun, ternyata kebangkitannya memiliki satu tujuan: mengakhiri kutukan pada keturunannya.

Kutukan dari mana? Di Bab 2, Dewi Ayu menikahi Ma Gedik, seorang lelaki tua yang hidup sengsara setelah ditinggal kekasihnya menjadi gundik orang Belanda. Wanita itu, Ma Iyang, adalah neneknya Dewi Ayu. Blunder ya? Bagaimana bisa seorang remaja (Dewi Ayu saat itu berusia 16an) cantik-kaya, menikahi seorang lelaki yang seharusnya menjadi kakeknya? Tapi di situlah gilanya kisah ini (dan masih banyak kegilaan lain). Dewi Ayu justru dengan tulus mencintai Ma Gedik yang sama sekali tidak mau menyentuh gadis itu. Inilah awal mula kutukan pada Dewi Ayu dan keturunannya! Ma Gedik yang ditinggal kekasih dan dipaksa menikahi cucu kekasihnya, justru bunuh diri terjun dari bukit dan menjadi roh jahat penuh dendam.

Kisah berikutnya di Bab 3 mengikuti alur sejarah kolonial di Indonesia. Usainya penjajahan Belanda dan awal mula pendudukan Jepang. Dewi Ayu dibawa ke penjara berdarah (Bloedenkamp) bersama sisa-sisa keturunan Belanda lainnya. Di sanalah awal Dewi Ayu (terpaksa) menyerahkan tubuhnya pada lelaki, untuk mendapatkan obat dan dokter bagi orang lain. Ini menunjukkan karakter Dewi Ayu yang nekat, namun penuh kepedulian. Hingga akhirnya, di Bab 4, ia bersama gadis-gadis lain dibawa ke rumah Mama Kalong, sebuah rumah pelacuran dengan pelanggan pada tentara Jepang. Dewi Ayu pun melahirkan anak pertamanya, Alamanda.

Alamanda, mewarisi kecantikan Dewi Ayu yang terlihat sejak masih kanak-kanak. Kecantikan itulah yang menjerat hati Kliwon, seorang pemuda keturunan (dan akhirnya menjadi) komunis. Kliwon yang digilai banyak gadis, justru tergila-gila pada Alamanda yang masih anak-anak, akhirnya menjalani petualangan gila; menjadi gelandangan dan jatuh cinta pada perempuan gila (yang akhirnya meninggal) [Bab 7]. Ketika akhirnya Alamanda menginjak remaja dan menjadi penakluk-pembuat patah hati banyak pria, ia bertemu kembali dengan Kliwon. Mereka saling jatuh cinta, berlaut berdua dalam satu kapal, berhari-hari, namun tanpa saling mengakui perasaan. Barulah ketika Kamerad Kliwon akan melanjutkan pendidikan dengan beasiswa partai (Komunis, tentunya), mereka saling menyatakan cinta dalam satu ciuman perpisahan yang membara. [Bab 8].

Tragedi terjadi ketika Sang Shodancho (begitu sebutannya, entah siapa nama aslinya), seorang pemimpin gerilya, pemimpin pasukan pemberontak, yang begitu terkenal, begitu hebat menaklukkan pasukan Jepang dan pecinta anjing-anjing ajak, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Alamanda. [Bab 6] Segala cara ia lakukan, hingga memerkosa Alamanda yang menolak lamarannya. Alamanda pun berakhir menikahi Sang Shodancho, dengan tanpa cinta, dengan gembok besi melindungi area kewanitaannya. Walaupun akhirnya Sang Shodancho mampu menghamili Alamanda, namun anak-anak itu tak pernah lahir hingga dua kali kehamilan. Untuk itu, Sang Shodancho sempat mengira itu kutukan seorang pria cemburu, Kamerad Kliwon, meskipun ia sendiri sadar bahwa anak-anak itu ada tanpa berlandaskan cinta. [Bab 9]

Kamerad Kliwon yang remuk hatinya ditinggalkan Alamanda menikah, kembali ke kampung halaman, menjalani hidup yang lebih damai dengan beralih dari satu profesi ke profesi lain. Ia membentuk Serikat Nelayan, yang menyuarakan protes dan membakar kapal-kapal Sang Shodancho. Kapal-kapal, yang dengan teknologi modern, memonopoli ikan, menjangkau daerah nelayan tradisional, menurunkan harga ikan di pasar. [Bab 11]

Kamerad Kliwon ditangkap dengan vonis hukuman mati. Namun, kekasih mana yang rela mendengar pujaannya dieksekusi mati? Alamanda yang masih mencintai Kamerad Kliwon, merelakan dirinya hamil untuk ketiga kalinya dengan syarat Sang Shodancho membebaskan Kamerad Kliwon dari penjara. Kehamilan dengan cinta itulah yang melahirkan seorang anak perempuan cantik, tegas, pemberani, dan penuh kasih sayang, bernama Nurul Aini. [Bab 13]

Kamerad Kliwon yang akhirnya bebas pada akhirnya menghadapi kenyataan akibat peristiwa Pemberontakan G30S/PKI. Kawan-kawan komunisnya dibantai ribuan jiwa, menjadi hantu-hantu gentayangan, dan sisanya dipenjara [Bab 12]. Ia sendiri selamat dan menikahi Adinda, anak kedua Dewi Ayu, yang setia menemaninya melewati masa sulit. Mereka dikaruniai anak lelaki tampan bak pangeran, yang diberi nama Krisan.

Lika-liku hidup membawa Dewi Ayu kembali ke rumah lamanya, meski ia tetap ditakdirkan menjadi pelacur di rumah Mama Kalong. Di Bab 5, Dewi Ayu bertemu Maman Gendeng, seorang jawara, begundal, preman, pendekar, kebal senjata, yang akhirnya menguasai wilayah Halimunda hingga berpuluh tahun kemudian. Meski mencintai Dewi Ayu, Maman Gendeng justru menikahi Maya Dewi, anak ketiga Dewi Ayu di Bab 10 atas permintaan Dewi Ayu. Sebuah usaha untuk melindungi putri cantiknya itu dari nasib sial yang mungkin terjadi dari jeratan lelaki. Maman Gendeng menghamili Maya Dewi di tahun kelima pernikahan mereka dan memiliki anak yang diberi nama dari putri legendaris idamannya, Rengganis Si Cantik.

Kelahiran 3 cucu Dewi Ayu, bukan akhir dari kisah ini, namun awal mula tragedi-tragedi yang baru. Ketiga sepupu itu tumbuh bersama, bermain, dan bersekolah bersama, seiring dengan orang tua mereka yang anehnya mulai hidup rukun. Kecuali Kamerad Kliwon yang tertangkap lagi karena memimpin demonstrasi atas pembangunan yang merugikan para penjual di area wisata. Ia ditangkap, dipenjara dan disiksa di Bloedenkamp, lalu dibebaskan dengan kondisi menjadi seseorang yang begitu berbeda. Ia tak banyak bicara sebelum akhirnya bertemu Alamanda dan melakukan perselingkuhan. Atas perbuatan tak terpuji itu, Kamerad Kliwon menyesal dan ditemukan Krisan (dan Adinda) bunuh diri menggantung di kamarnya. [Bab 14]

Di Bab 15, Rengganis yang teramat cantik namun lugu, menggemparkan sekolah dengan pengakuannya diperkosa seekor anjing berwarna coklat dan bermoncong hitam. Ia pun hamil, melahirkan, dan melarikan diri ke hutan markas gerilya Sang Shodancho. Anaknya mati di sana. Maman Gendeng yang kehilangan Rengganis Si Cantik menjadi murka, memporak-porandakan kota dan membunuh semua anjing bersama begundal-begundal anak buahnya. Ia pun diburu polisi dan akhirnya moksa, menghilang bersama cahaya [Bab 17].

Ai, gadis yang selalu melindungi Rengganis, terpuruk atas menghilangnya Rengganis, ia pun jatuh sakit dan meninggal. Kuburannya digali Krisan yang teramat mencintainya, namun tak berani menyatakan perasaan itu. Mayatnya disimpan di bawah tempat tidur Krisan dan dicari Sang Shodancho sampai berbulan-bulan dan bertahun-tahun namun tidak jua ia temukan, hingga Sang Shodancho terlalu malu untuk pulang dan menghadapi istrinya. Ia pun pergi ke markas gerilyanya di hutan, digerogoti masa tua dan hilang tenaga, mati dimakan ajak.

Mayat Ai yang tetap utuh dan harum masih tersimpan di kamar Krisan sampai suatu malam Rengganis Si Cantik datang ke sana. Mereka bertiga (Krisan, Rengganis, dan mayat Ai) berkapal ke tengah laut atas janji Krisan akan menikahi Rengganis dengan disaksikan mayat Ai. Namun Krisan tak mencintai Rengganis, ia hanya punya hasrat (dan telah melakukannya) untuk menyetubuhi Rengganis. Ya, Krisanlah anjing yang memerkosa Rengganis di toilet rusak sekolah. Krisan akhirnya mencekik Rengganis dan menenggelamkannya ke laut. Hal yang kemudian ia lakukan juga pada mayat Ai, menenggelamkannya di laut. [Bab 16]. Setelah menenggelamkan kedua gadis sepupunya, Krisan bertemu perwujudan roh jahat Ma Gendik dalam wujud seorang nelayan, yang memberinya nasehat untuk mengambil kekasih gadis yang buruk rupa, agar ia tak lagi kecewa dan patah hati.

[Bab 18] Dan terjadilah tragedi berikutnya, Krisan mengunjungi Si Cantik, anak keempat Dewi Ayu, yang buruk rupa dengan kulit hitam legam, telinga seperti gagang panci, dan hidung seperti colokan listrik. Malam-malam berlalu, dengan Krisan datang menjadi Pangeran Si Cantik, sebuah hubungan terlarang kembali terjadi antara Bibi dan keponakan itu. Hingga suatu malam, Dewi Ayu yang bangkit dari kubur berhasil menembak mati roh jahat Ma Gedik. Kehadiran Krisan pun mulai dapat teridentifikasi karena penghalang yang diciptakan roh jahat itu ikut mengilang.  Kinkin, anak penggali kubur, yang dendamnya membara atas hilangnya Rengganis Si Cantik, menembak mati Krisan si Anjing pemerkosa gadis pujaannya. Si Cantik dalam kondisi hamil, ditinggal mati kekasihnya, sebagaimana ketiga saudarinya yang telah menjadi janda. Anak itu lahir prematur dan akhirnya mati dengan hanya Si Cantik yang tahu siapa bapaknya.

Keempat anak Dewi Ayu akhirnya hidup bersama hingga hari tua, saling menyayangi dan melindungi. Tanpa lelaki.

Tentu banyak detail kisah yang tidak kutuliskan di sini. Silakan teman-teman membaca sendiri bukunya ya! Rasakan ketegangan, kekelaman, atau justru jijik, tergantung kondisi teman-teman masing-masing.

 

REVIEW

Menurutku, ada banyak isu yang diangkat penulis dalam buku Cantik Itu Luka ini : 

  1. Sisi gelap hasrat manusia; persetubuhan sedarah dan hubungan terlarang.
  2. Wanita dipandang sebagai objek dan komoditas; tawanan perang dijadikan pelacur.
  3. Komunisme; keinginan rakyat kecil akan kehidupan setara dan sama untuk semua orang.
  4. Mistis dan kepercayaan; pemanggilan roh dengan jailangkung, kebangkitan dari kubur, kekuatan kebal senjata, kekuatan menghilang bersama cahaya, kutukan roh jahat, hantu gentayangan.
  5. Keteguhan hati wanita; Dewi Ayu yang berani, nekat, dan peduli pada orang lain; Adinda yang memaklumi penyelewengan suaminya, Alamanda berkorban demi cintanya pada Kamerad Kliwon, Maya Dewi meninggalkan pendidikan demi menjadi istri yang utuh bagi suaminya.
  6. Cinta yang Membutakan; Shodancho membius Alamanda, Kliwon menjadi gelandangan, Kinkin membunuh karena dendam cinta, Krisan menjadi anjing dan membunuh karena cinta, Ma Gedik bunuh diri terjun dari bukit.
  7. Kasih sayang mendalam Ayah kepada anaknya; Sang Shodancho bertahun-tahun mencari mayat Ai, Maman Gendeng menghancurkan kota saat kehilangan Rengganis.
  8. Hmm.. untuk saat ini baru terpikir 7 di atas.

Isu-isu di atas dirangkai dalam satu kisah lengkap hidup Dewi Ayu dan anak-cucunya dengan begitu apik dan rapi. Meskipun kisahnya melompat-lompat tidak sesuai urutan Bab ya kalau menurutku, tapi akhirnya bisa dipahami kok alurnya. Dan justru alur yang melompat itu membuatku selalu ada rasa penasaran sebelum sampai ke ending.  

Setelah tuntas membaca novel ini, berhari-hari aku masih terngiang-ngiang dengan berbagai adegan di kisahnya. Memang membaca tidak seperti menonton film ya. Tidak ada gambar ataupun audio di buku, tapi kalimat-kalimat yang digunakan di novel ini benar-benar menghidupkan imajinasi untuk bisa terhanyut dalam kisahnya seperti halnya kita menonton film. Ada istilah-istilah yang belum kuketahui awalnya, seperti cikar dan ajak, lalu kucari di internet dan barulah bisa membayangkan dengan benar. Cikar yang ternyata kereta yang ditarik sapi, awalnya kukira kereta yang ditarik kuda. Ajak yang ternyata anjing asli Indonesia, awalnya kukira sejenis burung yang ganas. Hehehe..

Seperti pembaca-pembaca lain, aku beri  ⭐⭐⭐⭐⭐ 5 bintang untuk buku ini. 😊

Penggambaran tokoh, latar, dan rangkaian alur yang sempurna!

  

Karanganyar. Desember 2025.