Hallo, sudah sejak lama aku tidak menulis. Jadinya
sedikit-banyak awkward, agak bingung mulai dari mana, tapi ya, sudahlah,
pokoknya mulai saja.
Tulisan kali ini aku ingin membahas buku, tujuan
sebenarnya biar ndak lupa-lupa amat dengan bukunya. Buku terakhir yang aku
tuntaskan beridentitas berikut ini :
Judul Buku :
Cantik Itu Luka
Penulis :
Eka Kurniawan
Edisi cetakan : keempatpuluhlima (wow) November 2025,
cetakan pertamanya Desember 2002! Berarti aku baca setelah 23 tahun terbit!
Ibarat pendidikan, sudah lulus kuliah S1 itu! MasyaAllah keren ya! Novel bisa
bertahan cetak ulang sampai lebih dari 20 tahun!
Jumlah hal. : 505,
tanpa Daftar Isi -_-
Beli : Gramedia Online via Lazada
dengan harga setelah diskon Rp58.621 (Harga yang tertera di buku Rp125.000,
Lumayan banget kaaan, ngga ada setengah harga. Alhamdulillah, terimakasih
Lazada dengan segala koin dan diskonnya <3 )
Edisi sampul yang ini nih :
Gimana kesannya pas lihat sampul? Hmm.. aneh dan
penasaran, tiap elemen gambar di sampul itu maksudnya apa ya? Aku baru paham
maksudnya ya setelah tuntas baca. Ternyata cuplikan adegan yang ada di kisah
novel ini.
Kalau ditanya genre novel ini, aku sendiri akan menjawab
ini sih campuran, soalnya ada romansa, sejarah, horor, dan tragedi. Membacanya
seperti diombang-ambingkan dari satu suasana ke suasana lain. Ada suasana
mistis yang mencekam, perang yang kejam, dan asmara yang membara.
Rating usia novel ini 20+ ya, karena mengandung berbagai
unsur yang perlu kematangan emosi dan kognitif, seperti penggambaran kekerasan,
konten seksual, dan penggunaan bahasa yang kasar. Jadi, mohon dipikir secara
bijak sebelum memutuskan untuk membaca ya!
Oke, kita mulai dari bagian awal buku. Sebelum bab 1,
(Pak) Eka Kurniawan mengutip paragraf berikut:
Itu dari buku yang sudah kubeli juga tapi belum tuntas
kubaca! “Petualangan Don Quixote” oleh Miguel de Cervantes, karya klasik abad
ke-17. Dari paragraf yang dikutip sih mengisyaratkan ini novel Cantik Itu Luka
ini bakal penuh dengan tokoh perempuan, sesuai judulnya dengan kata Cantik.
Setelah tuntas baca buku ini, aku menyimpulkan;
“Oh, ternyata kutipan ini memang sesuai dengan isi
buku, soalnya tokoh perempuan dikisahkan selalu menaklukkan lelaki, baik ia
seorang lelaki biasa penarik cikar, seorang jenderal, seorang pimpinan komunis,
seorang begundal preman, maupun seorang pemuda tampan layaknya pangeran. Para
lelaki hebat tetap bisa takluk pada kecantikan wanita.”
Setelah kutipan itu, langsung Bab 1, dst. Karena tidak ada
Daftar Isi dan tidak ada judul Bab, aku memberi judul sendiri setiap selesai
membaca satu bab agar aku sendiri ingat alur cerita novel ini. Berikut judul
bab yang kubuat sendiri.
Bab 1 Dewi Ayu Bangkit dari Kubur
Bab 2 Dewi Ayu Menikahi Ma Gedik
Bab 3 Dewi Ayu di Penjara Bloedenkamp
Bab 4 Dewi Ayu dan Rumah Mama Kalong
Bab 5 Dewi Ayu dan Maman Gendeng
Bab 6 Kisah Sang Shodancho
Bab 7 Cinta Gila Kamerad Kliwon
Bab 8 Cinta Alamanda dan Kamerad Kliwon
Bab 9 Pernikahan Alamanda dan Sang Shodancho
Bab 10 Maman Gendeng Menikahi Maya Dewi
Bab 11 Kamerad Kliwon dan Serikat Nelayan vs. Sang
Shodancho
Bab 12 Keruntuhan Partai Komunis
Bab 13 Kelahiran 3 Cucu Dewi Ayu
Bab 14 Hantu-Hantu Komunis
Bab 15 Misteri Kehamilan Rengganis Si Cantik
Bab 16 3 Pengakuan Krisan
Bab 17 Maman Gendeng Moksa
Bab 18 Cantik Itu Luka
Di halaman akhir ada pohon silsilah keluarga yang awalnya
benar-benar membuatku bingung. Tapi justru itulah yang membuatku terus membaca
karena penasaran, meskipun sempat bosan di tengah jalan cerita. Kalian bingung
juga tidak?
SINOPSIS
Kisah berpusat di tokoh Dewi Ayu dan keluarganya. Ia
seorang wanita dengan darah campuran Indonesia-Belanda, namun hasil dari
hubungan sedarah (ayah dan ibunya saudara seayah-beda ibu). Kecantikannya
terkenal se-Halimunda (kota fiktif latar kisah ini). Namun, para lelaki tidak
perlu berebut untuk mendapatkannya karena Dewi Ayu menjalani takdirnya sebagai
pelacur.
Bab 1 kuberi judul Dewi Ayu Bangkit dari Kubur, vibes-nya
horor dan tidak logis karena ia bangkit setalah dikubur selama 21 tahun, dalam
kondisi tubuh yang utuh dan kecantikan yang abadi. Namun, ternyata
kebangkitannya memiliki satu tujuan: mengakhiri kutukan pada keturunannya.
Kutukan dari mana? Di Bab 2, Dewi Ayu menikahi Ma Gedik,
seorang lelaki tua yang hidup sengsara setelah ditinggal kekasihnya menjadi
gundik orang Belanda. Wanita itu, Ma Iyang, adalah neneknya Dewi Ayu. Blunder
ya? Bagaimana bisa seorang remaja (Dewi Ayu saat itu berusia 16an) cantik-kaya,
menikahi seorang lelaki yang seharusnya menjadi kakeknya? Tapi di situlah
gilanya kisah ini (dan masih banyak kegilaan lain). Dewi Ayu justru dengan
tulus mencintai Ma Gedik yang sama sekali tidak mau menyentuh gadis itu. Inilah
awal mula kutukan pada Dewi Ayu dan keturunannya! Ma Gedik yang ditinggal
kekasih dan dipaksa menikahi cucu kekasihnya, justru bunuh diri terjun dari
bukit dan menjadi roh jahat penuh dendam.
Kisah berikutnya di Bab 3 mengikuti alur sejarah kolonial
di Indonesia. Usainya penjajahan Belanda dan awal mula pendudukan Jepang. Dewi
Ayu dibawa ke penjara berdarah (Bloedenkamp) bersama sisa-sisa keturunan
Belanda lainnya. Di sanalah awal Dewi Ayu (terpaksa) menyerahkan tubuhnya pada
lelaki, untuk mendapatkan obat dan dokter bagi orang lain. Ini menunjukkan
karakter Dewi Ayu yang nekat, namun penuh kepedulian. Hingga akhirnya,
di Bab 4, ia bersama gadis-gadis lain dibawa ke rumah Mama Kalong, sebuah rumah
pelacuran dengan pelanggan pada tentara Jepang. Dewi Ayu pun melahirkan anak
pertamanya, Alamanda.
Alamanda, mewarisi kecantikan Dewi Ayu yang terlihat sejak
masih kanak-kanak. Kecantikan itulah yang menjerat hati Kliwon, seorang pemuda
keturunan (dan akhirnya menjadi) komunis. Kliwon yang digilai banyak gadis,
justru tergila-gila pada Alamanda yang masih anak-anak, akhirnya menjalani
petualangan gila; menjadi gelandangan dan jatuh cinta pada perempuan gila (yang
akhirnya meninggal) [Bab 7]. Ketika akhirnya Alamanda menginjak remaja dan
menjadi penakluk-pembuat patah hati banyak pria, ia bertemu kembali dengan
Kliwon. Mereka saling jatuh cinta, berlaut berdua dalam satu kapal,
berhari-hari, namun tanpa saling mengakui perasaan. Barulah ketika Kamerad Kliwon
akan melanjutkan pendidikan dengan beasiswa partai (Komunis, tentunya), mereka
saling menyatakan cinta dalam satu ciuman perpisahan yang membara. [Bab 8].
Tragedi terjadi ketika Sang Shodancho (begitu sebutannya,
entah siapa nama aslinya), seorang pemimpin gerilya, pemimpin pasukan
pemberontak, yang begitu terkenal, begitu hebat menaklukkan pasukan Jepang dan
pecinta anjing-anjing ajak, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Alamanda.
[Bab 6] Segala cara ia lakukan, hingga memerkosa Alamanda yang menolak
lamarannya. Alamanda pun berakhir menikahi Sang Shodancho, dengan tanpa cinta,
dengan gembok besi melindungi area kewanitaannya. Walaupun akhirnya Sang Shodancho
mampu menghamili Alamanda, namun anak-anak itu tak pernah lahir hingga dua kali
kehamilan. Untuk itu, Sang Shodancho sempat mengira itu kutukan seorang pria
cemburu, Kamerad Kliwon, meskipun ia sendiri sadar bahwa anak-anak itu ada tanpa
berlandaskan cinta. [Bab 9]
Kamerad Kliwon yang remuk hatinya ditinggalkan Alamanda
menikah, kembali ke kampung halaman, menjalani hidup yang lebih damai dengan
beralih dari satu profesi ke profesi lain. Ia membentuk Serikat Nelayan, yang
menyuarakan protes dan membakar kapal-kapal Sang Shodancho. Kapal-kapal, yang
dengan teknologi modern, memonopoli ikan, menjangkau daerah nelayan
tradisional, menurunkan harga ikan di pasar. [Bab 11]
Kamerad Kliwon ditangkap dengan vonis hukuman mati. Namun,
kekasih mana yang rela mendengar pujaannya dieksekusi mati? Alamanda yang masih
mencintai Kamerad Kliwon, merelakan dirinya hamil untuk ketiga kalinya dengan
syarat Sang Shodancho membebaskan Kamerad Kliwon dari penjara. Kehamilan dengan
cinta itulah yang melahirkan seorang anak perempuan cantik, tegas, pemberani,
dan penuh kasih sayang, bernama Nurul Aini. [Bab 13]
Kamerad Kliwon yang akhirnya bebas pada akhirnya
menghadapi kenyataan akibat peristiwa Pemberontakan G30S/PKI. Kawan-kawan
komunisnya dibantai ribuan jiwa, menjadi hantu-hantu gentayangan, dan sisanya
dipenjara [Bab 12]. Ia sendiri selamat dan menikahi Adinda, anak kedua Dewi
Ayu, yang setia menemaninya melewati masa sulit. Mereka dikaruniai anak lelaki
tampan bak pangeran, yang diberi nama Krisan.
Lika-liku hidup membawa Dewi Ayu kembali ke rumah lamanya,
meski ia tetap ditakdirkan menjadi pelacur di rumah Mama Kalong. Di Bab 5, Dewi
Ayu bertemu Maman Gendeng, seorang jawara, begundal, preman, pendekar, kebal
senjata, yang akhirnya menguasai wilayah Halimunda hingga berpuluh tahun
kemudian. Meski mencintai Dewi Ayu, Maman Gendeng justru menikahi Maya Dewi,
anak ketiga Dewi Ayu di Bab 10 atas permintaan Dewi Ayu. Sebuah usaha untuk
melindungi putri cantiknya itu dari nasib sial yang mungkin terjadi dari
jeratan lelaki. Maman Gendeng menghamili Maya Dewi di tahun kelima pernikahan
mereka dan memiliki anak yang diberi nama dari putri legendaris idamannya,
Rengganis Si Cantik.
Kelahiran 3 cucu Dewi Ayu, bukan akhir dari kisah ini,
namun awal mula tragedi-tragedi yang baru. Ketiga sepupu itu tumbuh bersama,
bermain, dan bersekolah bersama, seiring dengan orang tua mereka yang anehnya
mulai hidup rukun. Kecuali Kamerad Kliwon yang tertangkap lagi karena memimpin
demonstrasi atas pembangunan yang merugikan para penjual di area wisata. Ia
ditangkap, dipenjara dan disiksa di Bloedenkamp, lalu dibebaskan dengan kondisi
menjadi seseorang yang begitu berbeda. Ia tak banyak bicara sebelum akhirnya
bertemu Alamanda dan melakukan perselingkuhan. Atas perbuatan tak terpuji itu,
Kamerad Kliwon menyesal dan ditemukan Krisan (dan Adinda) bunuh diri
menggantung di kamarnya. [Bab 14]
Di Bab 15, Rengganis yang teramat cantik namun lugu,
menggemparkan sekolah dengan pengakuannya diperkosa seekor anjing berwarna
coklat dan bermoncong hitam. Ia pun hamil, melahirkan, dan melarikan diri ke
hutan markas gerilya Sang Shodancho. Anaknya mati di sana. Maman Gendeng yang
kehilangan Rengganis Si Cantik menjadi murka, memporak-porandakan kota dan
membunuh semua anjing bersama begundal-begundal anak buahnya. Ia pun diburu
polisi dan akhirnya moksa, menghilang bersama cahaya [Bab 17].
Ai, gadis yang selalu melindungi Rengganis, terpuruk atas
menghilangnya Rengganis, ia pun jatuh sakit dan meninggal. Kuburannya digali
Krisan yang teramat mencintainya, namun tak berani menyatakan perasaan itu. Mayatnya
disimpan di bawah tempat tidur Krisan dan dicari Sang Shodancho sampai
berbulan-bulan dan bertahun-tahun namun tidak jua ia temukan, hingga Sang
Shodancho terlalu malu untuk pulang dan menghadapi istrinya. Ia pun pergi ke
markas gerilyanya di hutan, digerogoti masa tua dan hilang tenaga, mati dimakan
ajak.
Mayat Ai yang tetap utuh dan harum masih tersimpan di
kamar Krisan sampai suatu malam Rengganis Si Cantik datang ke sana. Mereka
bertiga (Krisan, Rengganis, dan mayat Ai) berkapal ke tengah laut atas janji
Krisan akan menikahi Rengganis dengan disaksikan mayat Ai. Namun Krisan tak
mencintai Rengganis, ia hanya punya hasrat (dan telah melakukannya) untuk
menyetubuhi Rengganis. Ya, Krisanlah anjing yang memerkosa Rengganis di toilet
rusak sekolah. Krisan akhirnya mencekik Rengganis dan menenggelamkannya ke
laut. Hal yang kemudian ia lakukan juga pada mayat Ai, menenggelamkannya di
laut. [Bab 16]. Setelah menenggelamkan kedua gadis sepupunya, Krisan bertemu
perwujudan roh jahat Ma Gendik dalam wujud seorang nelayan, yang memberinya
nasehat untuk mengambil kekasih gadis yang buruk rupa, agar ia tak lagi kecewa
dan patah hati.
[Bab 18] Dan terjadilah tragedi berikutnya, Krisan
mengunjungi Si Cantik, anak keempat Dewi Ayu, yang buruk rupa dengan kulit
hitam legam, telinga seperti gagang panci, dan hidung seperti colokan listrik. Malam-malam
berlalu, dengan Krisan datang menjadi Pangeran Si Cantik, sebuah hubungan
terlarang kembali terjadi antara Bibi dan keponakan itu. Hingga suatu malam,
Dewi Ayu yang bangkit dari kubur berhasil menembak mati roh jahat Ma Gedik.
Kehadiran Krisan pun mulai dapat teridentifikasi karena penghalang yang
diciptakan roh jahat itu ikut mengilang.
Kinkin, anak penggali kubur, yang dendamnya membara atas hilangnya
Rengganis Si Cantik, menembak mati Krisan si Anjing pemerkosa gadis pujaannya. Si
Cantik dalam kondisi hamil, ditinggal mati kekasihnya, sebagaimana ketiga
saudarinya yang telah menjadi janda. Anak itu lahir prematur dan akhirnya mati
dengan hanya Si Cantik yang tahu siapa bapaknya.
Keempat anak Dewi Ayu akhirnya hidup bersama hingga hari
tua, saling menyayangi dan melindungi. Tanpa lelaki.
Tentu banyak detail kisah yang tidak kutuliskan di sini.
Silakan teman-teman membaca sendiri bukunya ya! Rasakan ketegangan, kekelaman, atau
justru jijik, tergantung kondisi teman-teman masing-masing.
REVIEW
Menurutku, ada banyak isu yang diangkat penulis dalam buku Cantik Itu Luka ini :
- Sisi gelap hasrat manusia; persetubuhan sedarah dan hubungan terlarang.
- Wanita dipandang sebagai objek dan komoditas; tawanan perang dijadikan pelacur.
- Komunisme; keinginan rakyat kecil akan kehidupan setara dan sama untuk semua orang.
- Mistis dan kepercayaan; pemanggilan roh dengan jailangkung, kebangkitan dari kubur, kekuatan kebal senjata, kekuatan menghilang bersama cahaya, kutukan roh jahat, hantu gentayangan.
- Keteguhan hati wanita; Dewi Ayu yang berani, nekat, dan peduli pada orang lain; Adinda yang memaklumi penyelewengan suaminya, Alamanda berkorban demi cintanya pada Kamerad Kliwon, Maya Dewi meninggalkan pendidikan demi menjadi istri yang utuh bagi suaminya.
- Cinta yang Membutakan; Shodancho membius Alamanda, Kliwon menjadi gelandangan, Kinkin membunuh karena dendam cinta, Krisan menjadi anjing dan membunuh karena cinta, Ma Gedik bunuh diri terjun dari bukit.
- Kasih sayang mendalam Ayah kepada anaknya; Sang Shodancho bertahun-tahun mencari mayat Ai, Maman Gendeng menghancurkan kota saat kehilangan Rengganis.
- Hmm.. untuk saat ini baru terpikir 7 di atas.
Isu-isu di atas dirangkai dalam satu kisah lengkap hidup
Dewi Ayu dan anak-cucunya dengan begitu apik dan rapi. Meskipun kisahnya
melompat-lompat tidak sesuai urutan Bab ya kalau menurutku, tapi akhirnya bisa
dipahami kok alurnya. Dan justru alur yang melompat itu membuatku selalu ada
rasa penasaran sebelum sampai ke ending.
Setelah tuntas membaca novel ini, berhari-hari aku masih
terngiang-ngiang dengan berbagai adegan di kisahnya. Memang membaca tidak
seperti menonton film ya. Tidak ada gambar ataupun audio di buku, tapi kalimat-kalimat
yang digunakan di novel ini benar-benar menghidupkan imajinasi untuk bisa
terhanyut dalam kisahnya seperti halnya kita menonton film. Ada istilah-istilah
yang belum kuketahui awalnya, seperti cikar dan ajak, lalu kucari di internet
dan barulah bisa membayangkan dengan benar. Cikar yang ternyata kereta yang
ditarik sapi, awalnya kukira kereta yang ditarik kuda. Ajak yang ternyata anjing
asli Indonesia, awalnya kukira sejenis burung yang ganas. Hehehe..
Seperti pembaca-pembaca lain, aku beri ⭐⭐⭐⭐⭐ 5 bintang untuk
buku ini. 😊
Penggambaran tokoh, latar, dan rangkaian alur yang
sempurna!
Karanganyar. Desember 2025.