Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2015

e-mail untuk Maryam


s4stika

Kulirik jam dinding yang tergantung di dinding seberang ranjang kutidur. Ah, baru pukul setengah lima pagi, tapi kenapa aku sudah terbangun? Disaat seharusnya masih jet lag seperti ini? Mungkin ini karena biasanya Maryam rajin membangunkanku untuk sholat subuh. Rupanya pagi yang berbeda di tempat yang berbeda terasa sedikit aneh. Biasanya terdengar seruan ayam jago yang saling bersahutan dari rumah-rumah tetangga, seruan adzan yang dikumandangkan dari masjid-masjid kampung, dan terasa guncangan lembut tangan Maryam membangunkanku dari lelap. Namun, pagi di Kuala Lumpur tanpa Maryam sungguh senyap dan tenang.
Sesuatu dalam kepalaku memaksa untuk kutidur kembali, bukankah kesempatan mendapatkan ketenangan seperti ini tidak datang setiap hari? Aku menurutinya, kutarik kembali selimut hangat yang disediakan hotel dan memejamkan mata. Tapi tiba-tiba sebuah suara lembut berkumandang berkali-kali dalam kepalaku,
“Tidak baik Mas tidur kembali setelah subuh, nanti rezekinya diperpendek bagaimana?”

Jumat, 27 Februari 2015

Mencintai Mati, Menghidupi Malu [Bagian 3]



Pak Rian tewas ditembak mati oleh seorang mahasiswanya sendiri yang telah menculiknya. Dan ia mengaku sebagai adik dari Nurina, gadis yang dulu merupakan kekasih Pak Rian namun ia campakkan dalam keadaan hamil. Adik Nurina membalaskan dendam kakaknya yang telah meninggal.

            Tujuh hari kemudian di kantor polisi,
            “Iya Pak, memang saya yang menculik dan menembakkan peluru itu ke Pak Rian…” tutur Wulan lirih dengan kepala tertunduk lesu.
            Wulan mengakui perbuatan keji yang ia lakukan pada dosen yang paling ia segani itu. Polisi yang menginterogasinya menanyakan berkali-kali alasan Wulan melakukan kejahatan itu, namun Wulan hanya terdiam dan menangis. Ia tak pernah mengatakan sebabnya. Namun, barang-barang bukti dan pengakuan Wulan sudahlah cukup untuk memasukkannya ke bui.
            Dalam hati Wulan tak peduli, meski ia harus dihukum mati atau dipenjara seumur hidup. Ia melakukannya dengan kesadaran penuh akan resiko yang akan ditanggungnya. Wulan hanya membayangkan wajah kedua adik kembarnya yang masih berusia lima tahun dan ayahnya yang hanya seorang tukang kebun di rumah seorang konglomerat. Wulan tahu dengan pasti bahwa meskipun kini seluruh dunia menjadi musuhnya, namun keluarganya tetap menyayangi dan merindukannya. Itu tersirat dari sorotan mata ayahnya yang sendu pada saat persidangan.

Rabu, 10 September 2014

Mencintai Mati, Menghidupi Malu [Bagian 2]

Lanjutan dari Mencintai Mati, Mengidupi Malu [Bagian 1]


          Dalam cerita sebelumnya, Pak Rian diculik oleh seorang yang tak dikenal sepulang mengajar. Dan pada akhirnya beliau tahu kalau orang itu adalah mahasiswanya sendiri.
“Lepaskan saya!! Apa salah saya? Kalau kamu mahasiswa yang tidak suka dengan cara saya mengajar dan memberi nilai, katakan saja langsung. Jangan menggunakan cara yang biadab seperti ini!!”
“Biadab anda bilang? Hahaha.. lucu sekali mendengar kata biadab yang diucapkan oleh manusia biadab. Dan biar saya luruskan, ini bukan tentang nilai. Sama sekali bukan.”
“Lantas?” sahut pak Rian dengan suara yang sudah tidak berteriak.
            “Hhhh…” suara aneh itu menghela napas, “pertanyaan bapak mengingatkan saya bahwa saya benar-benar ingin menghabisi bapak secepatnya.”
            “Apa???” sahut pak Rian dengan mata membelalak sekaligus mengisyaratkan ketakutan.
            “Tapi santai saja dulu pak karena sebenarnya pertanyaan bapak tadi sekaligus membuat saya sedih, karena pertanyaan itu mengingatkan saya pada penyebab apa yang saya lakukan hari ini. Membuat saya sedih karena teringat pada kakak saya, Nurina…”
            Mendengar penuturan suara aneh itu, Pak Rian tercekat, ia menelan ludah dan angannya menerawang ke masa lalu.
            “Mas Rian…”

Jumat, 05 September 2014

Mencintai Mati, Menghidupi Malu [Bagian 1]

s4stika


Selasa yang indah.
Betapa tidak indah? Sinar mentari dhuha yang seharusnya menghangatkan kulit, selasa ini justru tertutup gumpalan hasil kondensasi yang menggelap. Betapa tidak indah? Angin sepoi yang seharusnya menyejukkan respirasi, selasa ini justru saling berlomba menumbangkan segala yang ada di hadapannya. Betapa tidak indah? Hari ini ada mata kuliah dosen yang sangat kau segani, meskipun alam tak merestui. Selasa kelam yang indah ini dirasakan Wulan sebagai hari yang tepat.
Selasa yang kelam.
Betapa tidak kelam? Ayam jago masih tetap berkokok menyerukan kegembiraannya, meskipun mentari terhalang sinarnya. Betapa tidak kelam? Hawa yang tepat untuk terbuai mimpi, justru dipaksa dosen paling tak disegani untuk tetap ada perkuliahan. Selasa indah yang kelam ini dirasakan Rendi sebagai hari yang tak tepat.

Kamis, 21 Agustus 2014

Senyum Anti Sindiran [Bagian 2]


s4stika

cerita lanjutan dari Senyum Anti Sindiran [Bagian 1]

            Pagi di hari minggu menjadi pagi sampah di kompleks kami, karena setiap pagi di hari minggu seorang bapak tua yang kukenal sebagai Pak Tarno akan mengangkut sampah-sampah dari rumah kami dengan gerobak kayunya menuju TPS. Pagi ini aku sengaja menunggu Pak Tarno di depan pintu dengan sekantong plastik penuh sampah.
            “Tari! Ngapain di depan pintu bawa-bawa sampah?” suara Fajri dari rumah sebelah mengagetkanku dari lamunan.
            “Nungguin pak Tarno, Faj.”
            “Kenapa musti ditungguin? Tinggalin aja di depan, nanti juga diambil..”
            Mendengarnya aku hanya tersenyum miris. Tapi tak urung Fajri pun keluar lalu duduk di teras sambil memainkan handphone-nya.
            Beberapa saat kemudian, kulihat pak Tarno mulai mendekat. Pak Tarno mampir ke rumah Fajri sebelum ke rumahku.

Jumat, 15 Agustus 2014

Senyum Anti Sindiran [Bagian 1]


s4stika

Setiap pertemuan kita dengan orang-orang, masing-masing memiliki makna dan pelajaran tersendiri bagi kehidupan kita…

            Kulirik lagi Fajri yang dengan tergesa-gesa mengerjakan PR matematika dari Pak Luhur kemarin siang. Ah aku salah, ia bukan sedang mengerjakan PR itu melainkan sedang menyalin pekerjaan milik Anida, teman sebangkuku. Lagi.
            Sepersekian detik kemudian Fajri tampak tersenyum puas dan menghela napas lega sebelum kemudian beranjak berdiri menghampiri meja kami.
            “Ini An, buku kamu..” ucapnya sembari meletakkan buku di atas meja. Anida yang sedang berkutat dengan TTS-nya mendongak,
            “Oh, iya.” Hanya itu yang diucapkan Anida dan ia kembali memutar pandangan pada TTS.
            “Lestari, kamu udah ngerjain?” tanya Fajri tiba-tiba padaku.
            “Udah…”
            “Oh…” ucapnya sambil lalu. Dalam hati aku menggumam Oh, dia melakukannya lagi.
***                              ***

Kamis, 30 Januari 2014

[Don’t] Judge A Book by Its Cover . Part 2


***                                    ***
Sesampainya di Jakarta,
“Kamu beneran mau langsung balik ke Bandung neng? Ngga mau ikut teteh dulu atau nemuin teh Mela?”
“Ngga teh.. Lista mau langsung balik aja.”
“Kalo gitu teh Lisa temenin nyari bus ya..”
“Ngga usah teh.. Lista bisa sendiri kok. Dan kali ini insyaAlloh ngga bakal salah bus lagi. hehee…”
Lisa tersenyum lalu berpamitan dan berjanji akan mengunjungi Lista jika kembali ke Bandung.
Lista masih duduk melamun di terminal, pikirannya ingin segera kembali ke Bandung. Tapi hatinya menginginkan bertemu dengan teh Mela. Pikirannya terus saja mengingatkan betapa bencinya ia pada teh Mela, betapa ia jengkel karena kakaknya itu tak pernah mengunjunginya, lantas kenapa ia sekarang harus mengunjungi teh Mela? Tapi hatinya rindu, rindu ingin bertemu kakak semata wayangnya itu.

[Don’t] Judge A Book by Its Cover . Part 1

          
           Bismillahirrohman nirrohim..


Sampai sekarang Lista masih mempercayai teori yang ia buat sendiri tentang bagaimana menilai seseorang. Yah, teori yang berbunyi “Jugde a Book by Its Cover”, nilailah sebuah buku dari sampulnya. Kenapa demikian? Sementara banyak yang meyakini bahwa “penampilan itu belum tentu mewakili kepribadian seseorang, jadi jangan nilai seseorang berdasarkan penampilannya. Lihatlah ke dalam hatinya, bacalah isi buku itu sebelum memberi penilaian”, Lista justru berpikir “bagaimana bisa menilai isinya jika tidak semua buku bisa kita miliki? Kan tidak semua seri buku tersedia di Perpustakaan untuk bebas di baca? Dan logikanya, apa ada buku kumpulan puisi yang bertuliskan ‘Pintar Berhitung Matematika untuk Kelas 5 SD’ pada sampulnya? Bukankah sampul sebuah buku juga bertuliskan judul yang mewakili isi buku tersebut?”.

Sabtu, 31 Agustus 2013

My Idol [Part 2]


Sebulan sudah aku memulai aktifitas kuliah kembali. Aku masih merindukannya, masih mengingat senyumnya. Roro apa kabar? Iseng, aku membuka-buka pesan lama di handphone-ku. Tiba-tiba ada sebuah pesan yang berisi ucapan “selamat diterima di UI” dari sebuah nomor tak bernama. Aku ingat sekali itu gaya SMS Roro, pesan tanpa ekspresi. Pesan itu dia kirim dua tahun yang lalu. Apa nomornya ini masih aktif? Aku mengirim pesan kosong ke nomor itu, siapa tahu masih aktif. Dan ya! nomor Roro masih aktif! Hatiku menjadi berdebar tak karuan. Ada pesan balasan tak lama kemudian dan ini percakapan singkat kami;

Jumat, 30 Agustus 2013

My Idol [Part 1]


oleh : s4stika

            Hari nan suci yang dinanti-nantikan seluruh umat muslim dunia segera tiba, hari besar yang disebut Iedul Fitri. Dan sepekan sebelum bulan suci penuh berkah ini berakhir aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Semarang. Setibanya di rumah aku mulai membereskan kamarku yang lama tak berpenghuni. Ndak ada barang berserakan memang, tapi debu mengendap di mana-mana. Mungkin Ibu terlalu lelah menjahit seharian sehingga tak sempat mengurus kamarku ini. Aku mulai membereskan ranjang, meja dan almari. Saat itulah tiba-tiba aku menemukan sebuah stofmap berisi dokumen-dokumen masa SMA. Aku tersenyum kecil dan membukanya, ada ijazah, SKHUN, legalisiran, rapor dan ada buku kenangan. Ah jadi ingin membuka buku kenangan itu untuk mengingat kenangan lama. Kubuka satu-persatu mulai dari kelas lain yang sebagian besar aku tidak mengenal. Sampai bagian akhir yaitu kelasku, XII IPS 3. Kulihat senyum teman-teman lamaku, pose mereka yang lucu, dan pakaian-pakaian jadul yang kami kenakan, sampai aku melihat senyum khas itu.. senyum yang dulu amat kusuka. Senyum manis yang sampai sekarang masih membuat hatiku sakit tiap melihatnya karena mengetahui kenyataan bahwa pemilik senyum itu tak dapat kumiliki.
            Namanya Royan Prasetya Utama. Pria manis yang menjadi impianku selama tiga tahun di SMA.

Selasa, 03 Juli 2012

The Story Of Us- Chapter 1 [Part1]



"Finsha !! buruan !! sebentar lagi bus sekolah bakalan nyampe depan rumah!" teriak Mama Finsha dari meja makan sambil mengoleskan selai nanas ke roti tawar -yang langsung saja diserobot Meyla, adik Finsha. Mama Finsha mendelik pura-pura marah ke anaknya itu.
"Aduuuhh... gimana dong Ma?! aku belom nyisirin rambut, belom nata buku, belom pake sepatu, belom pake sabuk dan ya ampun... mandi aja belom! ,Mama.. bantuin Finsha !!" teriak Finsha dari kamarnya. Lalu Mamanya bergegas ke kamar anak gadisnya itu.
"Salah sendiri dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun, jadi repot kan ?"
Mama Finsha ngedumel sambil membereskan buku-buku Finsha yang berserakan di meja, dimasukkannya ke dalam ransel Finsha hingga penuh.
"Gimana lagi Ma ? aku tadi kan lagi asyik masuk dream land, ketemu TVXQ pula.. Toki Wo Tomete .. zuuto kimino.. " sempet-sempetnya konser di kamar mandi dalam suasana genting seperti ini, ck ck ck .. Finsha,Finsha
"Kak Pipiiiiin!! busnya udah dateng tuh.. Buruaan!!" teriak Meyla dari ruang tengah. Kebiasaan Meyla memanggil Kakaknya dengan panggilan 'Kak Pipin'. Ndeso banget kan tuh ?!
"Iya bentar!! baru mau pake sepatu nih.." sahut Finsha dari dalam kamar sambil melahap 
sepotong roti yang baru saja dibawakan Mamanya.
"Mana bus nya?" tanya Finsha sambil ngos-ngosan karna berlari-larian dari kamar. Roti masih terkunyah di mulutnya.
"Udah pergi barusan.. Kak Pipin kelamaan sih,"
"Meyla.. berenti manggil Kakak 'Pipin', panggil Kakak 'Kak Finsha', paham ?"
"Nggak mau.. weeek !!" ejek Meyla dan langsung -tanpa penghormatan- bubar jalan, karna dia yakin Kakaknya pasti akan segera melayangkan "jitakan" ke kepalanya seperti sebelum-sebelumnya.
"Eh eh eh... udah jangan pada ribut!! Kamu lagi Fin! buruan berangkat, tuh pake sepeda adek kamu!" tutur Mama.
"Loh ?! kok pake sepedaku lagi sih Ma ??" protes Meyla.
"Udah.. sekolah Meyla kan dekat, jadi bisa jalan kaki kan ?"
"Tuh ! dengerin kata Mama! Ya udah Ma, Finsha berangkat dulu ya.." sahut Finsha sambil berpamitan pada Mamanya. Lalu segera menuju garasi kecil di samping rumahnya dan mengeluarkan sepeda onthel kuning berkeranjang kecil warna senada di depannya. Langsung saja dia tancap gas dan weeesss... melesat ke sekolah (emang ada gasnya apah?!)
"Eh temen-temen !! Liat tuh !! itu kan si Pipin?!!" teriak Seicha saat melihat ke arah luar dari kaca jendela belakang bus sekolah.
"Pipin ?" kompakan teman-temannya bertanya bingung. Seicha lupa kalo teman-temannya tidak tau menahu tentang panggilan khusus Finsha tersebut.
"hehe.. maksudku Finsha," Seicha meralat sambil meringis.
"Eh, iya tuh si Finsha lagi ngebut pake sepeda.. "tutur Egy yang ikut melongok keluar.
"Cute banget sih tu anak.. kayak anak kecil aja deh, pake syal aneh gitu ,tapi kasian dia, udara pagi ini kan lagi dingiin banget" ini kata Denta, si penggemar Finsha sejak mereka masih kelas satu.
"Biarkan saja, kalau dibiarkan begitu kebiasaan bangun siangnya mungkin saja akan hilang" tutur Pak Supir. Sudah sejak kelas satu Finsha kecanduan bangun ke'siang'an, dan Pak Supir (yang lebih sering disebut Pak Kumis oleh anak-anak karna kumisnya tebal macam Pak Raden gitu) sudah hafal kebiasaan Finsha ini. Hari ini, hari pertama anak-anak menginjak kelas dua, Pak Kumis tak mau memberi toleransi pada Finsha. Tampak Seicha menjulurkan lidahnya dan melambai pada Finsha saat dia melihat ke arahnya, Seicha juga lip sync "dadah" pada Finsha, Finsha sendiri makin cemberut dan mempercepat kayuhan kakinya, seraya mengepalkan jari tangan dan mengacungkannya pada Seicha sambil komat-kamit "awas lo yah!"

***               ***

"Makannya Pin, kebiasaan buruk itu jangan dipiara! kalo bisa di-bumihanguskan malah .." Seicha sok menasehati Finsha pagi itu saat Finsha sudah nongol dari parkiran berusaha ngimbangin langkah Seicha menuju papan pengumuman penempatan kelas baru.
"Tega lo ya Sei! Temen lagi ngos-ngosan gini malah dikasih sarapan tambahan berupa ceramahan .. hosh hosh.. huuuh" Finsha menyahut masih sambil ngos-ngosan dan tak lupa melayangkan jitakan pada Seicha saat langkah mereka sudah sejajar.
"sakit wooy.. ni juga salah satu kebiasaan buruk u know !! dari dulu ampe sekarang nggak ilang-ilang iih " tutur Seicha sambil hendak menjitak  balik Finsha yang dengan gesitnya menghindar.
"Ya Alloh.. belum cukup lama apa penderitaanku selama ini Tuhan ?" gumam Seicha saat melihat papan pengumuman.
"Maksud kau Sei ??" sahut Finsha sambil celngak-celinguk nyariin namanya diantara bejibunnya nama-nama yang terpampang.
"Tuh ! liat Pin! .. " belum selesai Seicha merampungkan kalimatnya, Finsha sudah menyahut,
"Jangan panggil aku Pipin !!" teriak Finsha spontan, sedetik kemudian tatapan aneh tertuju dari segala penjuru yang mendengar suaranya, dan sedetik kemudian lagi tawa Seicha dkk meledak. Jadilah Finsha blushing.. hahaha.
"Kita satu kelas lagi di XI IPA4 ?!!" seru Finsha histeris sesaat setelah membaca namanya dan Seicha, "Aww.. bagus dong! kita emang jodoh kali yah Sei ?!.. hahaha" lanjutnya.
"Enak aja! itu dia yang kusebut dengan 'penderitaan' tadi u know!" sahut Seicha sambil melangkah ke arah kelas XI IPA4, Finsha mengekor dibelakangnya.
"haha.. bener juga sih! Udah lama diriku tak menganiaya dirimu sejak libur semester..hehe" kata Finsha sambil meringis.
Hampir saja Seicha tertabrak Finsha karna tiba-tiba Sei berhenti mendadak,
"Sei.. Wooyy !! kenape sih ? hellow .." Finsha mengguncang pelan bahu Seicha yang sedang diam mematung, pandangannya lurus ke depan, ke arah pintu XI IPA4.


Apa gerangan yang menyebabkan Seicha berhenti dan mematung seperti itu ?

Nantikan di Part berikutnya.Komennya pLease :)



NB : Pernah diposting di FB