Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

Kereta Sembilan Gerbong


s4stika

      Banyak yang percaya bahwa “kalau jodoh takkan lari kemana”. Tapi aku sendiri ragu dan bertanya, bagaimana kalau si jodoh berlari mengejar seorang yang salah –bukan mengejar kita? Nah saat itu mereka lagi-lagi memberi jawaban yang kuragukan, “kita bertemu orang-orang yang salah untuk akhirnya menemukan satu yang tepat”. Ah, alasan. Kurasa mereka hanya mengucapkannya tanpa berdasar. Mereka –orang-orang intelek di sekelilingku yang menganggap seolah akan hidup selamanya dan bekerja sebegitu keras hingga melupakan yang namanya jenjang pernikahan- hanya beralasan karena tak mau mencari, atau lebih tepatnya tak mau menyempatkan diri untuk mencari dan mengejar.
Sebenarnya aku pun merasa demikian terpengaruh oleh mereka. Bekerja tanpa kenal waktu, mengejar deadline, mencapai target, berlomba di depan atasan agar mendapat promosi dan semua kesibukan kantor lainnya. Semuanya tentang pekerjaan. Satu-satunya yang ingin kami curi hatinya adalah atasan –demi kenaikan jabatan. Kami orang-orang dewasa di usia dua puluhan yang sudah matang untuk berkeluarga, itulah yang dipikirkan orang-orang di luar sana. Namun sebenarnya, kurasa teman-teman sekantorku –dan aku- ini lebih mirip manusia-manusia ambisius yang tak pernah puas akan apa yang sudah didapatkannya seperti anak kecil yang selalu iri kepada adiknya.

Minggu, 19 April 2015

e-mail untuk Maryam


s4stika

Kulirik jam dinding yang tergantung di dinding seberang ranjang kutidur. Ah, baru pukul setengah lima pagi, tapi kenapa aku sudah terbangun? Disaat seharusnya masih jet lag seperti ini? Mungkin ini karena biasanya Maryam rajin membangunkanku untuk sholat subuh. Rupanya pagi yang berbeda di tempat yang berbeda terasa sedikit aneh. Biasanya terdengar seruan ayam jago yang saling bersahutan dari rumah-rumah tetangga, seruan adzan yang dikumandangkan dari masjid-masjid kampung, dan terasa guncangan lembut tangan Maryam membangunkanku dari lelap. Namun, pagi di Kuala Lumpur tanpa Maryam sungguh senyap dan tenang.
Sesuatu dalam kepalaku memaksa untuk kutidur kembali, bukankah kesempatan mendapatkan ketenangan seperti ini tidak datang setiap hari? Aku menurutinya, kutarik kembali selimut hangat yang disediakan hotel dan memejamkan mata. Tapi tiba-tiba sebuah suara lembut berkumandang berkali-kali dalam kepalaku,
“Tidak baik Mas tidur kembali setelah subuh, nanti rezekinya diperpendek bagaimana?”

Kamis, 09 April 2015

25 Juta Pencari Kejujuran

s4stika

“Mohon kerja samanya Pak. Dan sekali lagi saya ucapkan terimakasih sebelumnya.” Ucap Pak Rudy Setiawan, pemilik Perusahaan Otobus (PO) Mekar Jaya yang sangat terkenal se-Solo Raya. Pak Rudy menjabat hangat tangan seorang office boy (OB) di kantornya yang bernama Pak Samsul. Pak Samsul tersenyum,
“Sama-sama, Pak. Saya juga berterimakasih. Tapi, sebenarnya mengapa bapak merencanakan ini? Apakah karena kekurangpercayaan bapak terhadap pegawai bapak?” Ucapnya heran. Pak Rudy menunduk dengan tatapan sendu,

Jumat, 27 Februari 2015

Mencintai Mati, Menghidupi Malu [Bagian 3]



Pak Rian tewas ditembak mati oleh seorang mahasiswanya sendiri yang telah menculiknya. Dan ia mengaku sebagai adik dari Nurina, gadis yang dulu merupakan kekasih Pak Rian namun ia campakkan dalam keadaan hamil. Adik Nurina membalaskan dendam kakaknya yang telah meninggal.

            Tujuh hari kemudian di kantor polisi,
            “Iya Pak, memang saya yang menculik dan menembakkan peluru itu ke Pak Rian…” tutur Wulan lirih dengan kepala tertunduk lesu.
            Wulan mengakui perbuatan keji yang ia lakukan pada dosen yang paling ia segani itu. Polisi yang menginterogasinya menanyakan berkali-kali alasan Wulan melakukan kejahatan itu, namun Wulan hanya terdiam dan menangis. Ia tak pernah mengatakan sebabnya. Namun, barang-barang bukti dan pengakuan Wulan sudahlah cukup untuk memasukkannya ke bui.
            Dalam hati Wulan tak peduli, meski ia harus dihukum mati atau dipenjara seumur hidup. Ia melakukannya dengan kesadaran penuh akan resiko yang akan ditanggungnya. Wulan hanya membayangkan wajah kedua adik kembarnya yang masih berusia lima tahun dan ayahnya yang hanya seorang tukang kebun di rumah seorang konglomerat. Wulan tahu dengan pasti bahwa meskipun kini seluruh dunia menjadi musuhnya, namun keluarganya tetap menyayangi dan merindukannya. Itu tersirat dari sorotan mata ayahnya yang sendu pada saat persidangan.

Selasa, 27 Januari 2015

Aming Anak Pohon Bijak


s4stika
           
Mbok Nah dengan kesal mencari-cari kipas yang tak kunjung ia temukan. Ia kesal karena api tungkunya gampang sekali padam, padahal ia harus segera memberi sarapan suami dan ketiga anaknya yang sedari pukul enam pagi tadi sudah meronta kelaparan. Kipas dari anyaman bambu buatan suaminya itu akhirnya ia temukan di paga paling atas. Dengan segera Mbok Nah mengipas-ngipaskan angin ke arah tungku. Api yang padam pun mulai menyala kembali.
       Nasi dan lauk telah siap disantap, Mbok Nah memanggil seluruh anggota keluarga untuk berkumpul di meja makan.
         “Mbok, aku kan juga mau bandhengnya..” rengek Wati anak bungsu Mbok Nah yang berusia 5 tahun.
            “Hush! Jangan! Bandeng untuk diberikan pada Pohon Bijak hari ini. Simbok dan Bapak sedang butuh nasehat dan saran dari Pohon Bijak buat usaha bapakmu.” Sahut Mbok Nah membuat Wati cemberut dan menggerutu.
            “Pohon Bijak kan nggak dikasih apapun juga nggak apa-apa, Mbok.” Ucap Warni, anak kedua Mbok Nah yang berusia dua tahun lebih tua dari Wati.
            “Tapi apa salahnya memberi sesuatu kepada sesepuh tho ndhok?” jawab bapaknya.
            Kini bukan hanya Wati, tapi Warni pun turut cemberut.

***

            Mbok Nah dan suaminya, Pak Suroso, berjalan tergesa-gesa sembari menenteng sebuah rantang yang penuh dengan nasi, sayur, dan lauk. Tak lupa, Pak Suroso membawa sebuah kendi yang penuh berisi air dengan hati-hati. Keduanya berjalan menuju desa Sebrang dimana Pohon Bijak berada.

Selasa, 16 Desember 2014

Draft 10 : Hubungan Fiksi ~ Nonfiksi Menguak Luka Lama Tentang Operasi Lalu Lintas Polisi


Adakah keterkaitan antara fiksi dan nonfiksi? Adakah hubungan di antara mereka?
Seorang teman pernah bertanya padaku setelah ia membaca cerpen yang kubuat (read: Plat Nomor Pak Dosen). Ia bertanya, “Sekar, cerpen kamu itu berdasarkan pengalaman pribadi ya?”. Jujur aku sedikit tercengang, heuh? Apa iya cerpen yang kubuat sungguh seperti kenyataan?  Karena semua Cerpen dan Cerbung yang kubuat murni sebuah fiksi. Meskipun sebagian terilhami dari kejadian-kejadian nyata di sekitar ;-). Tapi tetap saja itu hanya sebuah fiksi, sebuah hayalan.
            Aku pernah membaca dalam pembukaan atau kata pengantar atau apalah namanya itu dalam novel Putu Wijaya yang berjudul Kroco, sebuah kalimat yang menghujat adanya penggolongan cerita menjadi fiksi dan nonfiksi.
            “Penggolongan fiksi dan non-fiksi itu sendiri merupakan sebuah fiksi.”

Jumat, 12 Desember 2014

“Sungguh banyak!”, Rita bilang


s4stika

            Kelas hening, hanya terdengar suara celotehan beberapa mahasiswi di luar kelas yang kebetulan lewat. Tak ada jantung yang tak berdebar di antara sekian mahasiswa dalam kelas yang menunggu sang dosen kesayangan mereka, siapa lagi kalau bukan Pak Dodi. Hari ini hari yang aneh, seisi kelas mengakuinya. Pak Dodi pagi-pagi sekali mendadak mengabarkan kepada PJ makul bahwa hari ini akan diadakan UK 3 Listrik Magnet yang notabene “sedikit sulit dicerna perut” Rita dan kawan-kawannya.

Rabu, 03 Desember 2014

Plat Nomor Pak Dosen



s4stika

            Ternyata, tidak selamanya udara kering dan sinar matahari siang yang terasa panas menyengat kulit bisa membuat seseorang merengut dan ngomel-ngomel sebal. Buktinya Lisa hanya termenung berdiri dengan tatapan kosong di depan gedung B FKIP UNS siang itu.
            Ternyata, tidak selamanya hilir mudik manusia dan kendaraan bermotor membuat seseorang merasa pusing dan penat. Buktinya Lisa hanya berdiri tercengang tanpa ekpresi sembari menatap sebuah mobil yang terparkir tepat di depan gedung B FKIP UNS.

Senin, 15 September 2014

Kejujuran Sepahit Madu

s4stika


Siang yang bersinar.

Mentari sinarnya menembus melalui atmosfer –seperti biasa- dan mencapai bumi dalam keadaan selamat. Sinarnya ikut menyinari alunan bolpoin dalam genggaman Wawan yang menari-nari menuliskan angka-angka di atas lembaran kertas ulangan Fisikanya. Sinar mentari yang turut menghantarkan kalor pun membantu proses pengeringan tinta bolpoin dengan begitu cepatnya.

“Aduh! Aku lupa rumusnya! Ergh…” gerutu Wawan geram dan menghentikan tarian bolpoinnya seraya menepuk jidatnya sendiri yang ia tahu bahwa itu takkan membuatnya benjol.

Rabu, 10 September 2014

Mencintai Mati, Menghidupi Malu [Bagian 2]

Lanjutan dari Mencintai Mati, Mengidupi Malu [Bagian 1]


          Dalam cerita sebelumnya, Pak Rian diculik oleh seorang yang tak dikenal sepulang mengajar. Dan pada akhirnya beliau tahu kalau orang itu adalah mahasiswanya sendiri.
“Lepaskan saya!! Apa salah saya? Kalau kamu mahasiswa yang tidak suka dengan cara saya mengajar dan memberi nilai, katakan saja langsung. Jangan menggunakan cara yang biadab seperti ini!!”
“Biadab anda bilang? Hahaha.. lucu sekali mendengar kata biadab yang diucapkan oleh manusia biadab. Dan biar saya luruskan, ini bukan tentang nilai. Sama sekali bukan.”
“Lantas?” sahut pak Rian dengan suara yang sudah tidak berteriak.
            “Hhhh…” suara aneh itu menghela napas, “pertanyaan bapak mengingatkan saya bahwa saya benar-benar ingin menghabisi bapak secepatnya.”
            “Apa???” sahut pak Rian dengan mata membelalak sekaligus mengisyaratkan ketakutan.
            “Tapi santai saja dulu pak karena sebenarnya pertanyaan bapak tadi sekaligus membuat saya sedih, karena pertanyaan itu mengingatkan saya pada penyebab apa yang saya lakukan hari ini. Membuat saya sedih karena teringat pada kakak saya, Nurina…”
            Mendengar penuturan suara aneh itu, Pak Rian tercekat, ia menelan ludah dan angannya menerawang ke masa lalu.
            “Mas Rian…”

Jumat, 05 September 2014

Mencintai Mati, Menghidupi Malu [Bagian 1]

s4stika


Selasa yang indah.
Betapa tidak indah? Sinar mentari dhuha yang seharusnya menghangatkan kulit, selasa ini justru tertutup gumpalan hasil kondensasi yang menggelap. Betapa tidak indah? Angin sepoi yang seharusnya menyejukkan respirasi, selasa ini justru saling berlomba menumbangkan segala yang ada di hadapannya. Betapa tidak indah? Hari ini ada mata kuliah dosen yang sangat kau segani, meskipun alam tak merestui. Selasa kelam yang indah ini dirasakan Wulan sebagai hari yang tepat.
Selasa yang kelam.
Betapa tidak kelam? Ayam jago masih tetap berkokok menyerukan kegembiraannya, meskipun mentari terhalang sinarnya. Betapa tidak kelam? Hawa yang tepat untuk terbuai mimpi, justru dipaksa dosen paling tak disegani untuk tetap ada perkuliahan. Selasa indah yang kelam ini dirasakan Rendi sebagai hari yang tak tepat.

Rabu, 03 September 2014

Draft 9: Semua Ada Alasannya


Pagi ini aku terbangun dengan perasaan dan sebab yang berbeda. Perasaan yang berbeda; biasanya rasa malas yang menghinggapi kepalaku, tapi pagi ini rasanya segar dan menyejukkan. Sebab yang berbeda; biasanya aku terbangun karena suara ibuku yang membangunkanku –setelah berseru untuk ke sekian kalinya, tapi pagi ini sebabnya adalah suara adzan subuh yang berkumandang pas pada lafadz Hayya ‘Alash Sholaah…  ah, Alhamdulillah.

Dan teman-teman, ternyata bangun pagi itu memang baik bagi pikiran dan hati. Menjadi lebih tenang, terutama saat merasakan perasaan nyaman mendengarkan nyanyian Kukuruyuuk yang bersahutan, ah terdengar bagai simfoni yang indah. Bukankah suara para ayam jago itu menandakan bahwa mereka melihat para malaikat? Saat seperti itu, perasaan bahagia menyeruak dan membuatku ingin memanjatkan doa-doa yang banyak dengan harapan para malaikat akan membawanya ke hadapan Allah…

Draft 8: Jembatan Asosiasi

Tolong jangan tanya, apa itu jembatan asosiasi, karena aku sendiri belum paham betul dengan frasa itu. Tapi kalian boleh menghujat, lantas kenapa membuat entri dengan judul tersebut? Well, Jembatan Asosiasi adalah satu-satunya frasa yang menggelitik pikiranku kala kuliah pagi tadi.
Harus kuakui, kuliah Teknologi Pembelajaran dengan dosen pagi tadi cukup menarik –cukup disayangkan pula, karna aku selalu duduk di barisan belakang.
Jadi begini, sang dosen mengawali perkuliahan dengan pengenalan tentang pentingnya Teknologi Pembelajaran, dengan cara yang unik, yang mengingatkanku pada sebuah kutipan yang kurang lebih begini:
Manusia suka mendengar, dan ingin didengarkan.
Manusia suka memahami, dan ingin dipahami.
Manusia suka mencintai, dan ingin dicintai.
Begitulah, manusia adalah makhluk komununikasi dua arah –two ways communication.

Kamis, 21 Agustus 2014

Senyum Anti Sindiran [Bagian 2]


s4stika

cerita lanjutan dari Senyum Anti Sindiran [Bagian 1]

            Pagi di hari minggu menjadi pagi sampah di kompleks kami, karena setiap pagi di hari minggu seorang bapak tua yang kukenal sebagai Pak Tarno akan mengangkut sampah-sampah dari rumah kami dengan gerobak kayunya menuju TPS. Pagi ini aku sengaja menunggu Pak Tarno di depan pintu dengan sekantong plastik penuh sampah.
            “Tari! Ngapain di depan pintu bawa-bawa sampah?” suara Fajri dari rumah sebelah mengagetkanku dari lamunan.
            “Nungguin pak Tarno, Faj.”
            “Kenapa musti ditungguin? Tinggalin aja di depan, nanti juga diambil..”
            Mendengarnya aku hanya tersenyum miris. Tapi tak urung Fajri pun keluar lalu duduk di teras sambil memainkan handphone-nya.
            Beberapa saat kemudian, kulihat pak Tarno mulai mendekat. Pak Tarno mampir ke rumah Fajri sebelum ke rumahku.

Jumat, 15 Agustus 2014

Senyum Anti Sindiran [Bagian 1]


s4stika

Setiap pertemuan kita dengan orang-orang, masing-masing memiliki makna dan pelajaran tersendiri bagi kehidupan kita…

            Kulirik lagi Fajri yang dengan tergesa-gesa mengerjakan PR matematika dari Pak Luhur kemarin siang. Ah aku salah, ia bukan sedang mengerjakan PR itu melainkan sedang menyalin pekerjaan milik Anida, teman sebangkuku. Lagi.
            Sepersekian detik kemudian Fajri tampak tersenyum puas dan menghela napas lega sebelum kemudian beranjak berdiri menghampiri meja kami.
            “Ini An, buku kamu..” ucapnya sembari meletakkan buku di atas meja. Anida yang sedang berkutat dengan TTS-nya mendongak,
            “Oh, iya.” Hanya itu yang diucapkan Anida dan ia kembali memutar pandangan pada TTS.
            “Lestari, kamu udah ngerjain?” tanya Fajri tiba-tiba padaku.
            “Udah…”
            “Oh…” ucapnya sambil lalu. Dalam hati aku menggumam Oh, dia melakukannya lagi.
***                              ***

Sabtu, 24 Mei 2014

Menuai “Janji Langit”nya AISHWORO AnG



Kutipan Paragraf yang Bagus 😄👍 :

     “… Jika memang kamu tidak berhasil masuk UMY, itupun sesungguhnya bukanlah sebuah kegagalan. Kamu telah berhasil menaklukan rasa takutmu. Dan yakinlah kamu akan diterima oleh ilmu sebagai orang yang merindukannya.”
     Begitulah kalimat yang kerap kali dia dengungkan kepadaku. Sebuah untaian kata sederhana dan seringkali dikhutbahkan banyak orang. Namun, bila yang mengatakannya adalah seorang sahabat yang tulus, lain rasanya. Kata-kata sahabat sejati adalah cahaya matahari yang menerangi kegelapan dalam nebula hati.

Jumat, 09 Mei 2014

Diary Sang Zombiegaret : Mencium Naraku


s4stika


Rasanya masih bisa kukenang sebatang lintingan tembakau di atas meja yang dulu selalu menemani sepiku. Rasanya masih bisa kuhirup aroma kepulan asap yang dulu terasa begitu menggelorakan sistem respirasiku. Dan rasanya masih bisa kuingat tawaku saat memperlakukan asap yang keluar dari hidungku sebagai mainan paling lucu seperti halnya anakku Nara yang sedang memainkan boneka beruangnya.

Rabu, 30 April 2014

Draft 5 : Adik


Khusus pada entri berjudul draft akan ada fenomena-fenomena kehidupan yang saya bagikan. Semoga bermanfaat dan bisa di pahami :)
Apa sih yang saya tahu tentang adik?
Dalam benak saya adik itu "kehampaan, kerinduan, dan keinginan". Hidup sebagai seorang anak tunggal memang demikian rasanya.

Rabu, 23 April 2014

Dia Sedang Jatuh Cinta


s4stika

            Hangatnya mentari dhuha mulai merasuk ke dalam epidermisku. Kulirik ayam tetangga yang mendekap erat anak-anaknya yang mungil. Pastilah dekapan induk ayam itu melebihi hangatnya cahaya matahari dhuha yang kurasakan. Dekapan hangat Ibu, ya aku sangat merindukannya. Hampir satu bulan, dan aku belum pulang dari rantau karena kesibukan kuliah ini. Ibu, apa kabar?

Jumat, 21 Februari 2014

Ratu Lebah dan Zeus


Alkisah, pada zaman dahulu para lebah tidak memiliki sengat sehingga kesulitan dalam melindungi madu mereka. Untuk itu maka pada suatu hari Ratu Lebah membawa madu dan mengunjungi dewa Zeus untuk meminta senjata baginya dan rakyatnya.
            “Ku persembahkan, Oh dewa Zeus!” kata Ratu Lebah.
            “Apa keinginanmu?” tanya dewa Zeus.
            “Berikanlah aku sengat agar aku bisa membunuh mereka yang ingin mengambil maduku..” pinta Ratu Lebah. Lalu Zeus pun mengeluarkan sengat pada tubuh Ratu Lebah.
            “Terimakasih Dewa Zeus..”
“Baiklah. Tapi, jika kau menggunakan sengatmu maka kau pun akan mati..” tutur dewa Zeus.
Ratu lebah pun terkejut dan terbang pulang.



 19:50 WIB
Jum'at, 22 Februari 2014
Karanganyar.
Semoga Bermanfaat.
Dongeng AESOP..^^