Buku pertama yang
kutuntaskan di tahun 2026 ini berjudul Educated (Terdidik). Sebuah
memoar1 hidup penulisnya yang bernama Tara Westover. Buku
yang kubaca cetakan Gramedia keenam belas, Agustus 2025. Jumlah halamannya 516
dan diterjemahkan oleh Berkat Setio. Berikut ini blurb yang tertera di sampul
belakang.
“Lahir
dari keluarga komunitas penyintas di pegunungan Idaho, Tara Westover berusia
tujuh belas tahun saat pertama kali menginjakkan kakinya di ruang kelas.
Keluarganya sangat terisolasi dari masyarakat kebanyakan sehingga tidak ada
yang memastikan apakah anak-anak mereka mendapatkan pendidikan, dan tidak ada
yang turun tangan ketika salah seorang kakak laki-laki Tara melakukan
kekerasan. Ketika seorang kakak laki-lakinya yang lain masuk perguruan tinggi,
Tara memutuskan untuk mencoba kehidupan baru. Pencariannya akan pengetahuan
mengubahnya, membawanya melintasi lautan dan benua, ke Harvard University dan
University of Cambridge. Baru setelah itu dia bertanya-tanya apakah dia telah
bepergian terlalu jauh, apakah masih ada jalan pulang.”
Orang tua Tara Westover memiliki idealisme dan fanatisme tersendiri yang berbeda dari kebanyakan masyarakat. Mereka menjauhkan anak-anaknya dari sekolah dan rumah sakit. ‘Sekolah’ hanya diberikan di rumah oleh sang Ibu dengan pelajaran dasar seperti membaca dan menulis.
Sang Ayah, memiliki
lahan barang rongsokan dan bekerja di sana sepanjang hari ketika tidak ada
pekerjaan konstruksi dari luar. Sang Ibu, meramu obat herbal dan menjadi ‘bidan’
bagi orang-orang sekitar. Ketika anak-anak mulai remaja, pekerjaan di lahan
barang rongsokan pun menanti, termasuk bagi Tara. Memisahkan dan memilah logam,
mengemudikan crane, hingga melemparkan besi ke pemotong raksasa yang berbahaya,
menjadi keseharian ia lalui. Tanpa rumah sakit, apa yang dilakukan ketika
terjadi kecelakaan kerja? Insting dan ramuan herbal sang Ibu yang diandalkan.
Tak hanya kerasnya
bekerja yang harus dilalui Tara remaja, namun juga kekerasan fisik dan mental
yang dilakukan oleh seorang kakak laki-lakinya. Kakak yang pada mulanya adalah
seorang Sayap Pelindung bagi Tara. Namun entah apa yang terjadi pada jiwanya, karena
ada saat, ketika rambut Tara dijambak, tangannya dipelintir, diseret ke kamar
mandi dan wajahnya ditenggelamkan ke jamban. Ada pula saat tubuhnya dibanting dan
pergelangan tangannya dipatahkan di suatu parkiran mal, namun Tara tetap memalsukan
tawa seolah itu hanya lelucon kakak-beradik. Setelahnya, sang kakak akan berlutut
di samping Tara dan meminta maaf; hanya untuk mengulang perbuatan yang sama di
hari-hari lain.
Tara mencoba kehidupan
yang baru, ketika seorang Kakaknya yang lain-yang telah meninggalkan rumah
untuk ke perguruan tinggi, menawarkan Tara untuk melakukan hal serupa.
“Di
luar sana ada sebuah dunia, Tara,” katanya. “Dan dunia itu akan sangat berbeda
setelah Ayah tidak lagi membisikkan pandangan tentang dunianya di telingamu.”
(Halaman 181)
Tara mulai mencari
pekerjaan di kota, membeli buku, dan belajar untuk ujian ACT (tes standar masuk
perguruan tinggi di AS). Tanpa pernah pergi ke sekolah, ia mengalami kesulitan
memahami aljabar dan hal-hal lain,
“...kelulusanku
akan membutuhkan keajaiban dari Tuhan. Dan jika Tuhan memberikan keajaiban-Nya,
kepergianku ke sekolah adalah kehendak-Nya.” (Halaman
202)
Keajaiban terwujud.
Tara diterima di BYU (Brigham Young University). Ia membayar uang kuliah dan
sewa apartemen dengan tabungannya. Namun, sisa tabungan tidak akan cukup untuk
membayar kuliah hingga ia lulus sehingga Tara harus berjuang mendapatkan
beasiswa. Perjuangannya bukan sekedar akademis, namun ia juga berjuang mempertahankan
prinsip hidup yang ditanamkan orang tuanya di dunia yang penuh penyimpangan di
matanya.
Tara kembali ke rumah
selama libur musim panas dan Natal. Ia bertekad untuk tidak kembali bekerja di lahan
barang rongsokan, meskipun akhirnya kalah oleh keadaan.
Kembali ke kampus, ke
dunia yang begitu berbeda dari rumah, para dosen melihat potensi besar dalam
diri Tara dan membantunya untuk mendapatkan beasiswa pascasarjana, Gates
Cambridge Scholarship. Takdir bahkan membawanya menyeberangi benua ke Harvard
University sebagai visiting fellow dan kembali mendapat beasiswa untuk
program PhD di Cambridge University.
Pendidikan yang
diperoleh Tara bukanlah tanpa harga. Pendidikan yang ia peroleh harus dibayar
dengan harga besar, yaitu hubungan dengan keluarga dan orang tua. Sebelum Tara
menyelesaikan PhD-nya, ia mendapat kunjungan dari orang tuanya dengan tujuan
untuk “menyucikan kembali” dan “mengusir setan” dari diri Tara. Penolakan Tara
pada tujuan itu menjadi pemisah di antara mereka. Tara mengalami gangguan jiwa
setelahnya, mengalami mimpi-mimpi buruk dan berjalan dalam tidur. Ia mencoba
meraih kembali hati Ibunya dengan mengirimkan email “perdamaian”, namun orang
tuanya tak bergeming. Pengakuan Tara atas kekerasan yang dialaminya dari
kakaknya-pun, tak menjadi air yang memadamkan api, namun justru menjadi bahan
bakar yang kian menambah kobarannya. Ibu dan Kakak perempuan yang ia harapkan
dapat mendukungnya, justru berbalik arah melawannya.
Tara merasa tak ada
lagi harapan mendapatkan dukungan dari keluarganya, hingga suatu ketika datang
email dar Kakak laki-lakinya yang mendukungnya kuliah sejak awal.
“Orangtua kita terbelenggu
oleh rantai pelecehan, manipulasi, dan kontrol... Mereka melihat perubahan
sebagai sesuatu yang berbahaya dan akan mengasingkan siapa pun yang memintanya.
Ini gagasan yang menyimpang tentang loyalitas terhadap keluarga...” (Halaman
472), tulis kakaknya.
Tepat saat Tara merasa
putus asa dan pasrah, Kakaknya datang meraih tangannya dari bahaya tenggelam.
Tara dapat kembali fokus pada disertasi dan dinyatakan sebagai Dr. Westover,
setelah 10 tahun sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di ruang kelas, di
usianya yang kini menginjak 27 tahun.
Tara mendapat kehidupan
dan kebahagiaan yang baru, meskipun ia kehilangan hal lain yang begitu besar,
keluarga. Namun, pada akhirnya Tara menemukan kembali keluarga, yang hadir
dalam pemakaman Neneknya, keluarga Ibunya, Kakek dan para bibi yang menyambutnya
dengan penuh kehangatan.
“Aku
melepaskan rasa bersalahku, ketika aku menerima keputusanku dengan caranya
sendiri, dengan tidak menelusuri lagi kesengsaraan masa lampau, tidak lagi
menimbang-nimbang dosa-dosanya terhadapku. Tidak lagi memikirkan ayahku sama
sekali. Aku belajar menerima keputusanku demi kepentinganku sendiri.
Keputusanku telah kubuat karena aku, bukan karena dia. Karena aku
membutuhkannya, bukan karena dia pantas mendapatkan keputusanku.
Itu
satu-satunya cara agar aku bisa mencintainya.” (Halaman
488)
Dan,
“Kita
bisa menyebut pembentukan kepribadian ini dengan banyak istilah. Transformasi.
Metamorfosis. Kepalsuan. Pengkhianatan.
Aku
menyebutnya pendidikan.” (Halaman 490), tulis Tara di
akhir buku.
REVIEW
:
Aku ingat, tidak lama
setelah lulus kuliah dan bekerja, aku bertemu akun instagram seorang Ibu yang
membesarkan anak-anaknya dengan homeschooling. Yang ditampilkan tentu
saja keberhasilannya; anak-anak yang tumbuh sehat, cerdas (bahkan kedua anaknya
sudah menerbitkan buku sendiri;seperti ibunya), dan tampak bahagia. Itu memicuku
untuk bercita-cita yang sama di masa depan. Bahwa membesarkan anak adalah tugas
orang tua, dan anak akan lebih terarah tanpa kontaminasi dunia luar yang sudah
begitu ugal-ugalan. Namun, membaca memoar Tara Westover ini membuatku mendapat insight
baru bahwa keputusan untuk memberikan homeschooling pada anak harus
dilakukan oleh orang tua yang benar-benar siap dan tentunya dengan alasan yang benar.
Ini tulisanku selang dua hari setelah selesai membaca Educated :
“Seorang
anak;
memerlukan
ilmu, lebih dari sekedar yang bisa diajarkan orang tuanya;
memerlukan
komunikasi-sosialisasi, lebih dari sekedar dengan keluarganya;
memerlukan
pencegahan sebelum dan penyembuhan
ketika sakit, lebih dari sekedar tanaman (herbal) di sekitar rumahnya;
memerlukan
dukungan dan bantuan, lebih dari sekedar kemampuan kerabatnya.
Segala
‘lebih’ yang dapat diperoleh anak dari sekolah dan masyarakat.”
Kisah Tara Westover
membuka mata kita tentang besarnya hak seorang anak mendapatkan pendidikan, dan
pada saat ia siap, untuk memilih sendiri pendidikan yang ia mau. Tanpa tekad
yang kuat, mungkin masa depan Tara sama dengan empat saudara/i-nya yang lain, masih
bergantung secara ekonomi/bekerja pada orang tua mereka, bahkan setelah
berkeluarga dan memiliki anak. Sedangkan Tara dan dua saudara laki-lakinya, Tyler
dan Richard, memiliki gelar doktor dan hidup bahagia di luar naungan gunung.
Semoga lebih banyak
orang tua dan guru membaca memoar Educated ini, agar lebih banyak pula yang
terinspirasi dari kisah hidup Tara Westover. Pendidikan yang tepat dapat membawa
kita pada kesadaran atas eksistensi diri, meraih potensi tertinggi, dan
menggapai kebahagiaan hidup.
Meskipun terjemahan,
namun kalimat dalam buku ini mudah dipahami dan seolah kita membaca langsung
tulisan Tara Westover dengan segala emosi yang ingin disampaikannya. Rating
usia buku ini adalah 17+, mungkin karena adanya kisah kekerasan dan fanatisme.
Aku sangat merekomendasikan
buku ini! *****
Catatan :
1Memoar
adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai
autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan
pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan
dengannya (KKBI Online)
Karanganyar,
17 Januari 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar