Jumat, 16 Januari 2026

BOOK REVIEW : EDUCATED

 


Buku pertama yang kutuntaskan di tahun 2026 ini berjudul Educated (Terdidik). Sebuah memoar1 hidup penulisnya yang bernama Tara Westover. Buku yang kubaca cetakan Gramedia keenam belas, Agustus 2025. Jumlah halamannya 516 dan diterjemahkan oleh Berkat Setio. Berikut ini blurb yang tertera di sampul belakang.

“Lahir dari keluarga komunitas penyintas di pegunungan Idaho, Tara Westover berusia tujuh belas tahun saat pertama kali menginjakkan kakinya di ruang kelas. Keluarganya sangat terisolasi dari masyarakat kebanyakan sehingga tidak ada yang memastikan apakah anak-anak mereka mendapatkan pendidikan, dan tidak ada yang turun tangan ketika salah seorang kakak laki-laki Tara melakukan kekerasan. Ketika seorang kakak laki-lakinya yang lain masuk perguruan tinggi, Tara memutuskan untuk mencoba kehidupan baru. Pencariannya akan pengetahuan mengubahnya, membawanya melintasi lautan dan benua, ke Harvard University dan University of Cambridge. Baru setelah itu dia bertanya-tanya apakah dia telah bepergian terlalu jauh, apakah masih ada jalan pulang.”

 

 SINOPSIS :

Orang tua Tara Westover memiliki idealisme dan fanatisme tersendiri yang berbeda dari kebanyakan masyarakat. Mereka menjauhkan anak-anaknya dari sekolah dan rumah sakit. ‘Sekolah’ hanya diberikan di rumah oleh sang Ibu dengan pelajaran dasar seperti membaca dan menulis. 

Sang Ayah, memiliki lahan barang rongsokan dan bekerja di sana sepanjang hari ketika tidak ada pekerjaan konstruksi dari luar. Sang Ibu, meramu obat herbal dan menjadi ‘bidan’ bagi orang-orang sekitar. Ketika anak-anak mulai remaja, pekerjaan di lahan barang rongsokan pun menanti, termasuk bagi Tara. Memisahkan dan memilah logam, mengemudikan crane, hingga melemparkan besi ke pemotong raksasa yang berbahaya, menjadi keseharian ia lalui. Tanpa rumah sakit, apa yang dilakukan ketika terjadi kecelakaan kerja? Insting dan ramuan herbal sang Ibu yang diandalkan.

Tak hanya kerasnya bekerja yang harus dilalui Tara remaja, namun juga kekerasan fisik dan mental yang dilakukan oleh seorang kakak laki-lakinya. Kakak yang pada mulanya adalah seorang Sayap Pelindung bagi Tara. Namun entah apa yang terjadi pada jiwanya, karena ada saat, ketika rambut Tara dijambak, tangannya dipelintir, diseret ke kamar mandi dan wajahnya ditenggelamkan ke jamban. Ada pula saat tubuhnya dibanting dan pergelangan tangannya dipatahkan di suatu parkiran mal, namun Tara tetap memalsukan tawa seolah itu hanya lelucon kakak-beradik. Setelahnya, sang kakak akan berlutut di samping Tara dan meminta maaf; hanya untuk mengulang perbuatan yang sama di hari-hari lain.

Tara mencoba kehidupan yang baru, ketika seorang Kakaknya yang lain-yang telah meninggalkan rumah untuk ke perguruan tinggi, menawarkan Tara untuk melakukan hal serupa.

“Di luar sana ada sebuah dunia, Tara,” katanya. “Dan dunia itu akan sangat berbeda setelah Ayah tidak lagi membisikkan pandangan tentang dunianya di telingamu.” (Halaman 181)

Tara mulai mencari pekerjaan di kota, membeli buku, dan belajar untuk ujian ACT (tes standar masuk perguruan tinggi di AS). Tanpa pernah pergi ke sekolah, ia mengalami kesulitan memahami aljabar dan hal-hal lain,

“...kelulusanku akan membutuhkan keajaiban dari Tuhan. Dan jika Tuhan memberikan keajaiban-Nya, kepergianku ke sekolah adalah kehendak-Nya.” (Halaman 202)

Keajaiban terwujud. Tara diterima di BYU (Brigham Young University). Ia membayar uang kuliah dan sewa apartemen dengan tabungannya. Namun, sisa tabungan tidak akan cukup untuk membayar kuliah hingga ia lulus sehingga Tara harus berjuang mendapatkan beasiswa. Perjuangannya bukan sekedar akademis, namun ia juga berjuang mempertahankan prinsip hidup yang ditanamkan orang tuanya di dunia yang penuh penyimpangan di matanya.

Tara kembali ke rumah selama libur musim panas dan Natal. Ia bertekad untuk tidak kembali bekerja di lahan barang rongsokan, meskipun akhirnya kalah oleh keadaan.

Kembali ke kampus, ke dunia yang begitu berbeda dari rumah, para dosen melihat potensi besar dalam diri Tara dan membantunya untuk mendapatkan beasiswa pascasarjana, Gates Cambridge Scholarship. Takdir bahkan membawanya menyeberangi benua ke Harvard University sebagai visiting fellow dan kembali mendapat beasiswa untuk program PhD di Cambridge University.

Pendidikan yang diperoleh Tara bukanlah tanpa harga. Pendidikan yang ia peroleh harus dibayar dengan harga besar, yaitu hubungan dengan keluarga dan orang tua. Sebelum Tara menyelesaikan PhD-nya, ia mendapat kunjungan dari orang tuanya dengan tujuan untuk “menyucikan kembali” dan “mengusir setan” dari diri Tara. Penolakan Tara pada tujuan itu menjadi pemisah di antara mereka. Tara mengalami gangguan jiwa setelahnya, mengalami mimpi-mimpi buruk dan berjalan dalam tidur. Ia mencoba meraih kembali hati Ibunya dengan mengirimkan email “perdamaian”, namun orang tuanya tak bergeming. Pengakuan Tara atas kekerasan yang dialaminya dari kakaknya-pun, tak menjadi air yang memadamkan api, namun justru menjadi bahan bakar yang kian menambah kobarannya. Ibu dan Kakak perempuan yang ia harapkan dapat mendukungnya, justru berbalik arah melawannya.

Tara merasa tak ada lagi harapan mendapatkan dukungan dari keluarganya, hingga suatu ketika datang email dar Kakak laki-lakinya yang mendukungnya kuliah sejak awal.

Orangtua kita terbelenggu oleh rantai pelecehan, manipulasi, dan kontrol... Mereka melihat perubahan sebagai sesuatu yang berbahaya dan akan mengasingkan siapa pun yang memintanya. Ini gagasan yang menyimpang tentang loyalitas terhadap keluarga...” (Halaman 472), tulis kakaknya.

Tepat saat Tara merasa putus asa dan pasrah, Kakaknya datang meraih tangannya dari bahaya tenggelam. Tara dapat kembali fokus pada disertasi dan dinyatakan sebagai Dr. Westover, setelah 10 tahun sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di ruang kelas, di usianya yang kini menginjak 27 tahun.

Tara mendapat kehidupan dan kebahagiaan yang baru, meskipun ia kehilangan hal lain yang begitu besar, keluarga. Namun, pada akhirnya Tara menemukan kembali keluarga, yang hadir dalam pemakaman Neneknya, keluarga Ibunya, Kakek dan para bibi yang menyambutnya dengan penuh kehangatan.

“Aku melepaskan rasa bersalahku, ketika aku menerima keputusanku dengan caranya sendiri, dengan tidak menelusuri lagi kesengsaraan masa lampau, tidak lagi menimbang-nimbang dosa-dosanya terhadapku. Tidak lagi memikirkan ayahku sama sekali. Aku belajar menerima keputusanku demi kepentinganku sendiri. Keputusanku telah kubuat karena aku, bukan karena dia. Karena aku membutuhkannya, bukan karena dia pantas mendapatkan keputusanku.

Itu satu-satunya cara agar aku bisa mencintainya.” (Halaman 488)

Dan,

“Kita bisa menyebut pembentukan kepribadian ini dengan banyak istilah. Transformasi. Metamorfosis. Kepalsuan. Pengkhianatan.

Aku menyebutnya pendidikan.” (Halaman 490), tulis Tara di akhir buku.

 

REVIEW :

Aku ingat, tidak lama setelah lulus kuliah dan bekerja, aku bertemu akun instagram seorang Ibu yang membesarkan anak-anaknya dengan homeschooling. Yang ditampilkan tentu saja keberhasilannya; anak-anak yang tumbuh sehat, cerdas (bahkan kedua anaknya sudah menerbitkan buku sendiri;seperti ibunya), dan tampak bahagia. Itu memicuku untuk bercita-cita yang sama di masa depan. Bahwa membesarkan anak adalah tugas orang tua, dan anak akan lebih terarah tanpa kontaminasi dunia luar yang sudah begitu ugal-ugalan. Namun, membaca memoar Tara Westover ini membuatku mendapat insight baru bahwa keputusan untuk memberikan homeschooling pada anak harus dilakukan oleh orang tua yang benar-benar siap dan tentunya dengan alasan yang benar.

Ini tulisanku selang dua hari setelah selesai membaca Educated :


“Seorang anak;

memerlukan ilmu, lebih dari sekedar yang bisa diajarkan orang tuanya;

memerlukan komunikasi-sosialisasi, lebih dari sekedar dengan keluarganya;

memerlukan pencegahan sebelum dan  penyembuhan ketika sakit, lebih dari sekedar tanaman (herbal) di sekitar rumahnya;

memerlukan dukungan dan bantuan, lebih dari sekedar kemampuan kerabatnya.

Segala ‘lebih’ yang dapat diperoleh anak dari sekolah dan masyarakat.”

 


Kisah Tara Westover membuka mata kita tentang besarnya hak seorang anak mendapatkan pendidikan, dan pada saat ia siap, untuk memilih sendiri pendidikan yang ia mau. Tanpa tekad yang kuat, mungkin masa depan Tara sama dengan empat saudara/i-nya yang lain, masih bergantung secara ekonomi/bekerja pada orang tua mereka, bahkan setelah berkeluarga dan memiliki anak. Sedangkan Tara dan dua saudara laki-lakinya, Tyler dan Richard, memiliki gelar doktor dan hidup bahagia di luar naungan gunung.

Semoga lebih banyak orang tua dan guru membaca memoar Educated ini, agar lebih banyak pula yang terinspirasi dari kisah hidup Tara Westover. Pendidikan yang tepat dapat membawa kita pada kesadaran atas eksistensi diri, meraih potensi tertinggi, dan menggapai kebahagiaan hidup.

Meskipun terjemahan, namun kalimat dalam buku ini mudah dipahami dan seolah kita membaca langsung tulisan Tara Westover dengan segala emosi yang ingin disampaikannya. Rating usia buku ini adalah 17+, mungkin karena adanya kisah kekerasan dan fanatisme.

Aku sangat merekomendasikan buku ini! *****

 

Catatan :

1Memoar adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya (KKBI Online)

 

Karanganyar, 17 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar