Rabu, 03 September 2014

Draft 9: Semua Ada Alasannya


Pagi ini aku terbangun dengan perasaan dan sebab yang berbeda. Perasaan yang berbeda; biasanya rasa malas yang menghinggapi kepalaku, tapi pagi ini rasanya segar dan menyejukkan. Sebab yang berbeda; biasanya aku terbangun karena suara ibuku yang membangunkanku –setelah berseru untuk ke sekian kalinya, tapi pagi ini sebabnya adalah suara adzan subuh yang berkumandang pas pada lafadz Hayya ‘Alash Sholaah…  ah, Alhamdulillah.

Dan teman-teman, ternyata bangun pagi itu memang baik bagi pikiran dan hati. Menjadi lebih tenang, terutama saat merasakan perasaan nyaman mendengarkan nyanyian Kukuruyuuk yang bersahutan, ah terdengar bagai simfoni yang indah. Bukankah suara para ayam jago itu menandakan bahwa mereka melihat para malaikat? Saat seperti itu, perasaan bahagia menyeruak dan membuatku ingin memanjatkan doa-doa yang banyak dengan harapan para malaikat akan membawanya ke hadapan Allah…

Nabi ngendhika: Nalikane sira kabeh iku krungu ing jago kluruk, maka jaluka ing Allah saka kefadholane Allah sebab jago kluruk iku merga ngerti malaikat. (Nabi bersabda: Saat kalian mendengar jago ber-kukuruyuk, maka mintalah pada Allah atas keutamaan Allah karena jago ber-kukuruyuk itu karena melihat Malaikat.) –Kitabudda’wat

Seringkali aku bangun lebih siang dan segalanya terasa kacau karena ketergesaan. Aku jadi menyesal dan iri pada teman-temanku yang sering bercerita bahwa mereka selalu bisa bangun pagi, bahkan sebelum subuh untuk melaksanakan sholat malam. Kenapa selama ini aku susah melakukannya?

Tapi, hari ini ketergesaan yang rutin berkunjung di pagi hari pun absen, aku menjadi memiliki waktu lebih untuk berangkat lebih awal. Setelah kuhitung-hitung aku punya waktu satu jam. Rencanaku simple saja, berangkat ke kampus lalu duduk manis dan membaca buku sembari menunggu dosen rawuh. Tapi yang terjadi bukan demikian, tanpa dinyana-nyana Mila (kelas VII) datang ke rumah dan minta bantuan untuk mencarikan teks hasil observasi untuk tugas Bahasa Indonesia yang akan dikumpulkan siang ini. Jadi, mungkin ini alasan kenapa aku harus bangun pagi. Karena bisa jadi aku terlambat dan tergesa-gesa kalau saja aku bangun lebih siang dan belum siap untuk menghadapi hari. Tapi, Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan.

Ah teman-teman, mari bertekad untuk selalu bangun pagi (terutama sepertiga malam yang akhir) agar kita bisa mendengar nyanyian Kukuruyuk yang indah bak simfoni di pagi hari dan memanjatkan doa-doa dan pengharapan kita! ^_^

***

Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang membuatku lebih percaya pada Intuisi yang kurasakan.  Aku memang tak jarang menolaknya, tapi saat itu terjadi, hal-hal tak berjalan sesuai dengan yang kuharapkan dan timbullah yang disebut “Masalah” –yang menurut dosen Pendidikan Agama Islamku berarti saat realitas tidak sesuai dengan idealitas.

Masalah, oh masalah. Ia memang menyusahkan, tapi ia juga memberikan sesuatu yang begitu berharga bagi kehidupan kita…  Pelajaran Hidup.

Coba simak kisah Pohon Ek dan Alang-Alang berikut ini dari Dongeng Aesop:

Pada suatu ketika, terjadi hujan kecil, namun diiringi angin ribut yang besar dan memporakporandakan hutan. Tak kalah, petir pun menyambar-nyambar  saling bergantian, saling mendahului.
Sebuah pohon Ek besar tumbuh di tengah hutan, ia berusaha sekuat tenaga menahan dan melawan angin besar yang menerpanya. Ia merasa cukup kuat untuk bisa bertahan dan mengalahkan angin itu. Sedangkan di sisi lain, keadaan berbeda dengan yang dilakukan pohon Ek. Para alang-alang yang tumbuh di bawah pohon Ek besar justru kegirangan mendapat angin besar, mereka bergerak bersama arah angin, menari-nari di antara angin dan bergembira.
Saat angin reda, hari pun kembali cerah. Matahari tanpa enggan menyiramkan sinarnya kepada hutan. Awan hitam sudah tak berjaga, digantikan oleh awan putih serabut yang indah. Burung-burung bebas beterbangan kembali dan berkicau dengan riangnya. Namun, saat mereka memutuskan untuk hinggap di dahan pohon Ek besar di tengah hutan seperti biasanya, mereka terkejut bukan kepalang.
Sang pohon Ek yang perkasa telah tumbang karena tak kuasa melawan angin,
“Hei alang-alang, kalian ringan dan lemah, kenapa tidak kalah tertiup angin sepertiku?” tanya pohon Ek keheranan dengan nafas tersengal.
“Kamu melawan angin, begitulah jadinya… kami sih mengikuti arah angin saja..” jawab para alang-alang.

Kisah Pohon Ek dan Alang-alang di atas kurang lebih sejalan dengan yang  dikatakan Taylor Swift:
“Life isn’t about waiting the rain to stop, but it’s about dancing in the storm.”

Kurang lebih seperti itu, maksudnya “Hidup bukanlah menunggu hujan berhenti, tapi bagaimana menari di antara badai.”

Keputusan ada di tangan kita masing-masing, apakah akan memilih menjadi si Pohon Ek yang melawan masalah dengan menggerutu dan memaksakan diri, atau menjadi si Alang-alang yang mengikuti arus masalah dan menikmatinya?

THE CHOICE IS YOURS! :-)

Karanganyar, 03 September 2014
22:03 WIB
Semoga Bermanfaat :-)

1 komentar:

  1. How to make money on slot machines
    Slot machine games are exactly what they sound like - slot หาเงินออนไลน์ machines that simulate the action of real gambling. They don't look like they are real money casino games,

    BalasHapus