Senin, 20 Agustus 2018

Know Your Waste: Kemana Perginya Sampahku Selama Ini?

made with: Canva


    Tulisan ini bagian dari Games dalam kelas #bzwbatch3 asuhan bu @dkwardhani di Whatsapp.
    Games ini benar-benar menggungah saya, menyadarkan saya betapa selama ini saya begitu kejam kepada bumi, langit, dan seisinya. Saya menyadari hal tersebut ketika merenung dan menelaah kemana saja perginya sampah yang saya produksi selama ini.
    Saya awali dengan mengidentifikasi jenis-jenis sampah yang saya (dan keluarga) hasilkan. Saya membedakannya menjadi tiga kategori utama, yaitu Organik, Anorganik, dan Komposit.

Minggu, 13 September 2015

Kereta Sembilan Gerbong


s4stika

      Banyak yang percaya bahwa “kalau jodoh takkan lari kemana”. Tapi aku sendiri ragu dan bertanya, bagaimana kalau si jodoh berlari mengejar seorang yang salah –bukan mengejar kita? Nah saat itu mereka lagi-lagi memberi jawaban yang kuragukan, “kita bertemu orang-orang yang salah untuk akhirnya menemukan satu yang tepat”. Ah, alasan. Kurasa mereka hanya mengucapkannya tanpa berdasar. Mereka –orang-orang intelek di sekelilingku yang menganggap seolah akan hidup selamanya dan bekerja sebegitu keras hingga melupakan yang namanya jenjang pernikahan- hanya beralasan karena tak mau mencari, atau lebih tepatnya tak mau menyempatkan diri untuk mencari dan mengejar.
Sebenarnya aku pun merasa demikian terpengaruh oleh mereka. Bekerja tanpa kenal waktu, mengejar deadline, mencapai target, berlomba di depan atasan agar mendapat promosi dan semua kesibukan kantor lainnya. Semuanya tentang pekerjaan. Satu-satunya yang ingin kami curi hatinya adalah atasan –demi kenaikan jabatan. Kami orang-orang dewasa di usia dua puluhan yang sudah matang untuk berkeluarga, itulah yang dipikirkan orang-orang di luar sana. Namun sebenarnya, kurasa teman-teman sekantorku –dan aku- ini lebih mirip manusia-manusia ambisius yang tak pernah puas akan apa yang sudah didapatkannya seperti anak kecil yang selalu iri kepada adiknya.

Minggu, 19 April 2015

e-mail untuk Maryam


s4stika

Kulirik jam dinding yang tergantung di dinding seberang ranjang kutidur. Ah, baru pukul setengah lima pagi, tapi kenapa aku sudah terbangun? Disaat seharusnya masih jet lag seperti ini? Mungkin ini karena biasanya Maryam rajin membangunkanku untuk sholat subuh. Rupanya pagi yang berbeda di tempat yang berbeda terasa sedikit aneh. Biasanya terdengar seruan ayam jago yang saling bersahutan dari rumah-rumah tetangga, seruan adzan yang dikumandangkan dari masjid-masjid kampung, dan terasa guncangan lembut tangan Maryam membangunkanku dari lelap. Namun, pagi di Kuala Lumpur tanpa Maryam sungguh senyap dan tenang.
Sesuatu dalam kepalaku memaksa untuk kutidur kembali, bukankah kesempatan mendapatkan ketenangan seperti ini tidak datang setiap hari? Aku menurutinya, kutarik kembali selimut hangat yang disediakan hotel dan memejamkan mata. Tapi tiba-tiba sebuah suara lembut berkumandang berkali-kali dalam kepalaku,
“Tidak baik Mas tidur kembali setelah subuh, nanti rezekinya diperpendek bagaimana?”

Kamis, 09 April 2015

25 Juta Pencari Kejujuran

s4stika

“Mohon kerja samanya Pak. Dan sekali lagi saya ucapkan terimakasih sebelumnya.” Ucap Pak Rudy Setiawan, pemilik Perusahaan Otobus (PO) Mekar Jaya yang sangat terkenal se-Solo Raya. Pak Rudy menjabat hangat tangan seorang office boy (OB) di kantornya yang bernama Pak Samsul. Pak Samsul tersenyum,
“Sama-sama, Pak. Saya juga berterimakasih. Tapi, sebenarnya mengapa bapak merencanakan ini? Apakah karena kekurangpercayaan bapak terhadap pegawai bapak?” Ucapnya heran. Pak Rudy menunduk dengan tatapan sendu,

Jumat, 27 Februari 2015

Mencintai Mati, Menghidupi Malu [Bagian 3]



Pak Rian tewas ditembak mati oleh seorang mahasiswanya sendiri yang telah menculiknya. Dan ia mengaku sebagai adik dari Nurina, gadis yang dulu merupakan kekasih Pak Rian namun ia campakkan dalam keadaan hamil. Adik Nurina membalaskan dendam kakaknya yang telah meninggal.

            Tujuh hari kemudian di kantor polisi,
            “Iya Pak, memang saya yang menculik dan menembakkan peluru itu ke Pak Rian…” tutur Wulan lirih dengan kepala tertunduk lesu.
            Wulan mengakui perbuatan keji yang ia lakukan pada dosen yang paling ia segani itu. Polisi yang menginterogasinya menanyakan berkali-kali alasan Wulan melakukan kejahatan itu, namun Wulan hanya terdiam dan menangis. Ia tak pernah mengatakan sebabnya. Namun, barang-barang bukti dan pengakuan Wulan sudahlah cukup untuk memasukkannya ke bui.
            Dalam hati Wulan tak peduli, meski ia harus dihukum mati atau dipenjara seumur hidup. Ia melakukannya dengan kesadaran penuh akan resiko yang akan ditanggungnya. Wulan hanya membayangkan wajah kedua adik kembarnya yang masih berusia lima tahun dan ayahnya yang hanya seorang tukang kebun di rumah seorang konglomerat. Wulan tahu dengan pasti bahwa meskipun kini seluruh dunia menjadi musuhnya, namun keluarganya tetap menyayangi dan merindukannya. Itu tersirat dari sorotan mata ayahnya yang sendu pada saat persidangan.

Selasa, 27 Januari 2015

Aming Anak Pohon Bijak


s4stika
           
Mbok Nah dengan kesal mencari-cari kipas yang tak kunjung ia temukan. Ia kesal karena api tungkunya gampang sekali padam, padahal ia harus segera memberi sarapan suami dan ketiga anaknya yang sedari pukul enam pagi tadi sudah meronta kelaparan. Kipas dari anyaman bambu buatan suaminya itu akhirnya ia temukan di paga paling atas. Dengan segera Mbok Nah mengipas-ngipaskan angin ke arah tungku. Api yang padam pun mulai menyala kembali.
       Nasi dan lauk telah siap disantap, Mbok Nah memanggil seluruh anggota keluarga untuk berkumpul di meja makan.
         “Mbok, aku kan juga mau bandhengnya..” rengek Wati anak bungsu Mbok Nah yang berusia 5 tahun.
            “Hush! Jangan! Bandeng untuk diberikan pada Pohon Bijak hari ini. Simbok dan Bapak sedang butuh nasehat dan saran dari Pohon Bijak buat usaha bapakmu.” Sahut Mbok Nah membuat Wati cemberut dan menggerutu.
            “Pohon Bijak kan nggak dikasih apapun juga nggak apa-apa, Mbok.” Ucap Warni, anak kedua Mbok Nah yang berusia dua tahun lebih tua dari Wati.
            “Tapi apa salahnya memberi sesuatu kepada sesepuh tho ndhok?” jawab bapaknya.
            Kini bukan hanya Wati, tapi Warni pun turut cemberut.

***

            Mbok Nah dan suaminya, Pak Suroso, berjalan tergesa-gesa sembari menenteng sebuah rantang yang penuh dengan nasi, sayur, dan lauk. Tak lupa, Pak Suroso membawa sebuah kendi yang penuh berisi air dengan hati-hati. Keduanya berjalan menuju desa Sebrang dimana Pohon Bijak berada.

Selasa, 16 Desember 2014

Draft 10 : Hubungan Fiksi ~ Nonfiksi Menguak Luka Lama Tentang Operasi Lalu Lintas Polisi


Adakah keterkaitan antara fiksi dan nonfiksi? Adakah hubungan di antara mereka?
Seorang teman pernah bertanya padaku setelah ia membaca cerpen yang kubuat (read: Plat Nomor Pak Dosen). Ia bertanya, “Sekar, cerpen kamu itu berdasarkan pengalaman pribadi ya?”. Jujur aku sedikit tercengang, heuh? Apa iya cerpen yang kubuat sungguh seperti kenyataan?  Karena semua Cerpen dan Cerbung yang kubuat murni sebuah fiksi. Meskipun sebagian terilhami dari kejadian-kejadian nyata di sekitar ;-). Tapi tetap saja itu hanya sebuah fiksi, sebuah hayalan.
            Aku pernah membaca dalam pembukaan atau kata pengantar atau apalah namanya itu dalam novel Putu Wijaya yang berjudul Kroco, sebuah kalimat yang menghujat adanya penggolongan cerita menjadi fiksi dan nonfiksi.
            “Penggolongan fiksi dan non-fiksi itu sendiri merupakan sebuah fiksi.”